Kamis, 4 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Antara Cinta Terlarang 

Aku tidak pernah merasakan apa itu keheningan, bagiku kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang tanpa batas.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
ILUSTRASI 

Aku menarik napas panjang, menatap bayang-bayang di dinding. “Besok adalah Sabtu Suci. Hari di mana semesta terdiam menunggu kebangkitan. Aku ingin berhenti berlari, Maria. 

Aku ingin berhenti mencuri cinta di sudut-sudut gelap pergaulan bebas ini. Sabtu suci telah mengajarkan kita bahhwa “menunggu” dalam kesunyiaan bukanlah hal yang sia-sia. 

Kadang, hal-hal terbesar dalam hidup justru dipersiapkan dalam kehingan paling dalam bukan di tengah kebisingan di bar.” 

Lonceng gereja mulai berdentang, membelah kesunyian malam yang dingin. 

Nadanya bukan lagi sekadar penanda waktu, melainkan panggilan pulang bagi jiwa-jiwa yang tersesat dalam rimba metropolitan.  

Cinta yang terlarang bukan karena dunia melarangku, melainkan karena aku  melarang jiwa untuk tumbuh. Aku menuliskan kalimat terakhir di buku catatanku. 

Aku menyadari bahwa Paskah bukan sekadar perayaan kuno tentang makam yang kosong, melainkan tentang hati yang kosong yang kini diisi oleh harapan baru. 

Ketulusan mulai menggantikan nafsu. Keheningan mulai menggantikan dentum musik yang kosong. 

Kami  tidak lagi mencari validasi di pelukan orang asing; namun kami mulai belajar mencintai diri sendiri melalui lensa penebusan.

Saat fajar Paskah menyentuh cakrawala, warna emas perlahan menghapus abu-abu di langit kota. Maria mengambil kuasnya, mencelupkannya ke dalam warna yang paling terang yang ia miliki. 

Di atas kanvasnya, rantai bunga yang layu itu kini mulai bertunas kembali, menghadap matahari. 

Aku berdiri di sampingnya, melihat dunia dengan mata yang baru. “Kita tidak sedang berpisah, Maria,” bisikku. 

“Kita hanya sedang membiarkan diri kita ‘mati’ terhadap masa lalu, agar kita bisa ‘bangkit’ sebagai manusia yang utuh.” 

Di bawah cahaya Paskah yang hangat, cinta kami tidak lagi sembunyi-sembunyi. 

Aku kini menjadi sebuah perjalanan suci untuk saling menjaga, bukan lagi untuk saling menghancurkan dalam kebebasan yang semu.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved