Puisi
Puisi-puisi Kerry Dagur
Tiada lagi kau sederita ini; tanggung keluarga dalam kemiskinan, mengemis iba dengan air mata, melawan mati pura-pura.
Jeritan (1)
dari Ambriyana di seberang batas
Sebelum berangkat ke sana, Ambriyana pegang teguh ungkapan jika takdir sudah membumi biar di dalamnya aku hidup. Sudah cinta mati Ambriyana dengan takdir, sebab mau apa?
Kepada kau ia menghidangkan janji-janji, mencicipinya lebih awal manisnya tidak dapat; segala harap akan terkabul, segala rejeki tiba mendadak, segala pening tiada lagi, kau pulang betul-betul mengenakan pakaian keemasan, nikmatnya menusuk cemas. Semuanya pasti.
Tiada lagi kau sederita ini; tanggung keluarga dalam kemiskinan, mengemis iba dengan air mata, melawan mati pura-pura.
Apa mau apa, semua ditelan sangka. Sangka siapa sangka, segala digebuk arus. Sudah, menjerit saja. Menjerit saja. Menjerit saja!!!
Kau menangis terbahak-bahak, suara menjadi suram nan curam, dan rindu begitu hening menanggung ributnya jeritanmu, Ambriyana.
Baca juga: Puisi-Puisi Pekan Suci Paskah
Di hari jeritan menguncup, sekali lagi kau mengingat ungkapan jika takdir sudah membumi biar di dalamnya aku hidup. Bila kekasih janjimu memberi pudak, baiknya aku menegurmu dengan nasib seperti apa? Bila kekasih janjimu kini tertawa, harusnya aku juga tapi itu keterlaluan, bukan?
Menjeritlah Ambriyana! Kepada tawaran, ajakan, yang terlalu serius menyisikan air mata tubuh. Kepada orang-orang berbau, yang mulut dan bibirnya dibungkam. Kepada orang-orang yang belum sadar, yang dahsyat tekat gilanya, yang mati suri gagasnya, yang berisik selalu.
Menjeritlah Ambriyana! Kekasih janjimu tiada waktu mendengar apalagi merasa.
(Nenuk, Maret 2023)
Jeritan (2)
//
Di Taman Eden orang-orang tanahan
sedari pagi hingga siang lamanya
menyisir rerumputan merintis duri
setibanya sore di masing-masing sarang
di samping tungku mereka merawat bara
membakar lelah menanti ajakan malam.
//
Di Taman Eden orang-orang tanahan
mencangkul nasib sehari dibayar keringat
sebagian keringat merintik ke tanah
cicil masa depan anak-anak
sisanya lepas melekat di tubuh
lekas pulang kerja kata orang.
//
Di Taman Eden orang-orang tanahan
menemukan jodoh sampai mati dicintai
murni merupa secantik Bunga Lili
memikat sadar setampan Buah Khuldi
melilit sampai sesak Ular Tua merengkuh
pilihan orang-orang tanahan bergegas
menyelip ke tangan, mata, juga hati.
//
Di taman Eden orang-orang tanahan
tiada henti dibelit dililit tawaran
datang satu bujuk tanah dan air
serbu seribu rayu makan dan minum
“Terima saja leluhur tidak marah
leluhur nyenyak selalu
tatkala dibobohi syair adat”
//
Di Taman Eden orang-orang tanahan
menjerit meraung meski sudah pikir panjang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Cewek-menjerit-ilustrasi.jpg)