Obituari
Ziarah Iman Sang Gembala Muda
Ia tidak mencari panggung, tetapi perjumpaan. Ia tidak mengejar pujian, tetapi kesetiaan. Di sanalah imamat menemukan maknanya.
Kisah dua murid Emaus menjadi simbol paling indah dari ziarah ini. Mereka baru mengenali Yesus ketika Ia berjalan bersama mereka dan memecahkan roti.
Pengenalan akan Tuhan lahir dari kebersamaan perjalanan dan perayaan Ekaristi.
Begitu pula hidup seorang imam. Ia mengenali Kristus dalam perjalanan bersama umat dan dalam perayaan sakramen yang dilayaninya setiap hari.
Hidup Romo Marno Wuwur mengingatkan kita bahwa gembala sejati tidak pernah berjalan sendirian.
Kristus selalu berjalan di sampingnya meski kadang tak disadari. Dan ketika akhirnya perjalanan duniawi mencapai senja, sang gembala pulang kepada Dia yang sejak awal menyertainya.
Santo Paulus pernah bersaksi dengan penuh keyakinan dengan mengatakan bahwa “aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.”
Kalimat ini terasa tepat menggambarkan akhir ziarah seorang Romo Marno Wuwur yang setia.
Hidupnya mungkin singkat menurut hitungan manusia, tetapi utuh menurut ukuran Allah.
Ziarah iman Romo Marno Wuwur kini telah mencapai kepenuhannya. Namun jejak kasihnya tetap tinggal dalam kenangan umat, dalam doa keluarga, dalam teladan kesederhanaan yang ia tinggalkan.
Ia telah menunjukkan kepada kita bahwa menjadi imam berarti berjalan bersama Tuhan dalam keheningan, melayani dengan rendah hati, dan setia sampai akhir. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Romo-Marianus-Hali-Wuwur.jpg)