Obituari
Ziarah Iman Sang Gembala Muda
Ia tidak mencari panggung, tetapi perjumpaan. Ia tidak mengejar pujian, tetapi kesetiaan. Di sanalah imamat menemukan maknanya.
Tanpa doa dan kesunyian, pelayanan pastoral mudah berubah menjadi rutinitas. Dengan doa, pelayanan menjadi perutusan.
Dalam terang ini, pengalaman batin Romo Marno Wuwur yang merasakan Tuhan hadir dalam wajah umat sederhana, dalam senyum anak-anak, dalam tangan yang saling menguatkan menjadi cerminan spiritualitas gembala sejati.
Ia tidak mencari panggung, tetapi perjumpaan. Ia tidak mengejar pujian, tetapi kesetiaan. Di sanalah imamat menemukan maknanya.
Paus Yohanes Paulus II (1993) menulis bahwa imam dipanggil untuk menjadi gambaran hidup Kristus Sang Gembala Baik, yang mengenal domba-domba-Nya dan memberikan hidup-Nya bagi mereka.
Gambaran ini menunjukkan bahwa imamat bukan sekadar fungsi liturgis, melainkan relasi kasih.
Seorang gembala berjalan bersama kawanan. Ia merasakan luka mereka, memahami kecemasan mereka, dan tinggal di tengah kehidupan mereka.
Spiritualitas seperti inilah yang hidup dalam diri Romo Marno Wuwur seorang imam yang hadir sebagai sahabat, bukan sebagai penguasa.
Henri J.M. Nouwen (2002) menyebut pelayanan semacam ini sebagai pelayanan kehadiran.
Ia menulis bahwa seorang pelayan Tuhan pertama-tama bukan orang yang banyak berbicara, melainkan orang yang setia tinggal dan mendengarkan.
Kehadiran yang penuh empati sering kali lebih bermakna daripada khotbah yang panjang. Dalam diam, kasih berbicara lebih dalam.
Ziarah iman seorang imam juga tidak lepas dari pengalaman “malam gelap”, masa ketika Tuhan terasa jauh dan doa terasa kering.
Namun tradisi rohani Gereja melihat pengalaman ini bukan sebagai kegagalan iman, melainkan sebagai pemurnian.
Santo Yohanes dari Salib (2010) menjelaskan bahwa Allah kadang menyembunyikan penghiburan rohani agar manusia belajar mengasihi-Nya dengan iman yang dewasa, bukan sekadar perasaan. Justru dalam kegelapan itulah iman menjadi matang.
Maka, ketika seorang imam tetap setia di tengah kesunyian dan penderitaan, di situlah panggilannya menjadi autentik. Kesetiaan lebih penting daripada keberhasilan lahiriah.
Dalam ukuran Allah, cinta yang kecil namun tulus jauh lebih berharga daripada karya besar tanpa kasih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Romo-Marianus-Hali-Wuwur.jpg)