Opini
Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar
Sebab rumah tidak pernah benar benar diuji dari warna cat di dindingnya. Rumah diuji dari dapurnya.
Ia berbicara kepada masyarakat yang memiliki pasar, perdagangan dan sistem yang berjalan.
Masalahnya bukan ketiadaan lembaga. Masalahnya adalah manusia mulai dikorbankan demi keberlangsungan sistem itu sendiri.
Ketika Amos mencatat pertanyaan, “Bilakah bulan baru berlalu supaya kita boleh menjual gandum?” (Amos 8:5, Lembaga Alkitab Indonesia, 2019), ia sedang membongkar sebuah mentalitas yang menganggap manusia hanya sebagai bagian dari perhitungan ekonomi. Ibadah masih berlangsung.
Ritual masih dijalankan. Sistem tetap bekerja namun perhatian terhadap mereka yang lemah semakin menghilang.
Di tangan Amos, persoalannya bukan sekadar ketidakadilan ekonomi. Persoalannya adalah ketika sistem yang seharusnya melayani manusia mulai menuntut manusia untuk melayani sistem.
Pada titik itulah agama, pasar, kekuasaan dan lembaga dapat berubah menjadi berhala baru yang tampak berhasil dari luar tetapi perlahan kehilangan hati nuraninya.
Karena itu kritik Amos bukan terutama terhadap pasar, uang atau lembaga. Kritiknya diarahkan kepada cara berpikir yang membuat sistem menjadi lebih penting daripada manusia.
Ketika kita berbicara tentang modal, dividen, target dan pertumbuhan, apakah Om Kobus, Mama Maria, Veronika dan Om Strom masih terlihat? Ataukah mereka perlahan berubah menjadi angka angka kecil yang tenggelam di bawah laporan yang tampak sukses?
Dalam terang Amos, keberhasilan tidak diukur pertama tama dari besarnya modal yang berputar, melainkan dari apakah kehidupan orang kecil ikut dipulihkan. Itulah sebabnya peringatan Amos 8:7 terdengar begitu menggetarkan. Allah tidak melupakan segala perbuatan mereka.
Manusia bisa lupa. Lembaga bisa lupa. Sejarah bisa lupa. Namun Allah tidak lupa pada mereka yang dikorbankan oleh cara sebuah sistem bekerja.
Mengembalikan Dapur ke Pusat Pembangunan
Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development menegaskan pentingnya pendekatan human centred public services yang menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses kebijakan (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2024).
Dalam bahasa yang lebih sederhana, pembangunan harus kembali ke dapur. Pembangunan harus terasa di meja makan keluarga, di ruang belajar anak anak, di kebun petani, di perahu nelayan dan di pasar tempat para pedagang kecil mencari nafkah.
Karena itu kita membutuhkan Bank NTT yang kuat, tetapi kuat untuk melayani. Kita membutuhkan koperasi yang banyak, tetapi banyak yang hidup.
Kita membutuhkan pemerintah yang berani mengambil keputusan, tetapi juga cukup rendah hati untuk mendengar suara yang tidak pernah terdengar di ruang rapat.
Pada akhirnya, rumah rumah biru itu terus mengingatkan saya pada satu kenyataan sederhana. Rumah tidak hidup karena cat di dindingnya.
Rumah hidup karena ada asap yang naik dari dapurnya, karena ada makanan yang dibagi, karena ada anak yang tetap bisa bermimpi dan karena ada harapan yang bertahan untuk esok hari.
Rumah yang catnya biru dapat bertahan bertahun tahun. Tetapi rumah yang dapurnya sunyi perlahan kehilangan kehidupan di dalamnya.
Dan mungkin itulah pertanyaan yang sedang dihadapi NTT hari ini. Selama Om Kobus masih cemas menunggu hujan, selama Mama Maria masih menghitung ulang uang belanja sebelum tidur, selama Veronika masih mencari masa depan jauh dari kampung halamannya dan selama Om Strom masih pulang dengan ketidakpastian yang sama dari laut, maka pembangunan belum selesai meskipun laporan tahunan telah ditandatangani dan berbagai indikator menunjukkan kemajuan.
Mungkin persoalan terbesar kita bukan ketika sebuah daerah kekurangan modal.
Persoalan terbesar muncul ketika sebuah daerah mulai kehilangan kemampuan melihat manusia yang seharusnya menjadi alasan mengapa seluruh modal, program, lembaga dan kebijakan itu dibangun sejak awal.
Barangkali karena itu ukuran keberhasilan pembangunan tidak pertama tama terletak pada seberapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan, melainkan pada seberapa sedikit orang yang merasa harus meninggalkan rumahnya demi bertahan hidup.
Sebab rumah yang catnya biru masih dapat berdiri bertahun tahun, tetapi rumah yang dapurnya sunyi perlahan kehilangan kehidupan di dalamnya.
Dan selama suara piring yang kosong masih lebih nyaring daripada suara yang terdengar dari ruang ruang rapat, maka pertanyaan Amos belum selesai dijawab oleh pembangunan kita. (*)
Daftar Rujukan
- Antara. (2026, January 7). BP3MI: 127 pekerja migran NTT meninggal di luar negeri selama 2025. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/5337661/bp3mi-127-pekerja-migran-ntt-meninggal-di-luar-negeri-selama-2025
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2025, July 25). Persentase penduduk miskin Provinsi Nusa Tenggara Timur Maret 2025. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. https://ntt.bps.go.id
- Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026, May 21). Jutaan pekerja informal menggerakkan ekonomi NTT. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. https://ntt.bps.go.id/news/2026/05/21/914/-opini--jutaan-pekerja-informal-menggerakkan-ekonomi-ntt.html
- Detik Bali. (2026, May 26). Pemprov NTT, Malaka dan Alor suntik modal Bank NTT Rp38 miliar. Detik Bali. https://www.detik.com/bali/bisnis/d-8506516/pemprov-ntt-malaka-dan-alor-suntik-modal-bank-ntt-rp-38-miliar
- Ekorantt.com. (2026, May 25). RUPS Bank NTT setujui pergantian direksi dan tambahan modal Rp38 miliar. Ekorantt.com. https://ekorantt.com/2026/05/25/rups-bank-ntt-setujui-pergantian-direksi-dan-tambahan-modal-rp38-miliar/
- Lembaga Alkitab Indonesia. (2019). Alkitab Terjemahan Baru 2. Lembaga Alkitab Indonesia.
- Organisation for Economic Co-operation and Development. (2024). Global trends in government innovation 2024: Fostering human centred public services. OECD Publishing. https://www.oecd.org
- Pos Kupang. (2026, May). Opini: Di balik pertumbuhan ekonomi NTT. Pos Kupang Online. https://kupang.tribunnews.com/editorial/963497/opini-di-balik-pertumbuhan-ekonomi-ntt
- Victory News. (2026, May). Terbentuk 3.443 Koperasi Merah Putih di NTT, bisa menjadi peluang ekonomi sekaligus ancaman. Victory News. https://www.victorynews.id
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
John Mozes Hendrik Wadu Neru
Opini Pos Kupang
Om Kobus
Mama Maria
Veronika
Gereja Masehi Injili di Timor
Pendeta GMIT
Klasis Sabu Timur
Meaningful
NTT
| Opini: Manfaat Digitalisasi Bagi Petani dalam Meningkatkan Usahatani |
|
|---|
| Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda |
|
|---|
| Opini: Mengenal Orthoebolavirus, Sebentuk Ancaman Kesehatan Masyarakat Global yang Nyata |
|
|---|
| Opini - Teologi Pembebasan Katolik di Tengah Revolusi AI: Membaca Magnifica Humanitas |
|
|---|
| Opini: Ketika Sekolah Menjauhkan Murid dari Layar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-06.jpg)