Minggu, 31 Mei 2026

Opini

Opini: Mengenal Orthoebolavirus, Sebentuk Ancaman Kesehatan Masyarakat Global yang Nyata

Kapasitas laboratorium nasional telah disiagakan penuh untuk mendukung deteksi cepat dan respons dini penyakit ebola.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Hermina Mau, SKM.,M.Sc 

Oleh: Hermina Mau, SKM.,M.Sc 
Entomolog Kesehatan yang berkarya di Dinas Kesehatan Provinsi NTT, IAKMI Provinsi Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Berita Utama media internasional dan nasional tentang merebaknya orthoebolavirus di Kongo dan Uganda pada bulan Mei 2026 cukup menggemparkan karena WHO telah menetapkannya sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional. 

Dikutip dari website Centers for Diseases Control and Prevention, jumlah kematian akibat outbreak ebola ini mencapai 264 orang.  Ebola bukan merupakan penyakit atau masalah kesehatan baru di dunia. 

Penyakit ini pertama kali diidentifikasi secara bersamaan pada dua tempat berbeda yaitu di Sudan dan Republik Kongo pada tahun 1976. 

Baca juga: Tanggap Darurat Ebola Global, Epidemolog: Tak Perlu Tutup Total Pintu Perbatasan

Penamaan virus Ebola mengacu pada sebuah sungai yaitu sungai Ebola, dimana virus ini pertama kali diidentifikasi di sekitar aliran sungai tersebut. 

Sejak tahun 2014 hingga saat ini, kasus ebola telah dilaporkan terjadi di berbagai negara di benua Afrika, Amerika, dan Eropa, termasuk beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Italia, Spanyol, dan Inggris. 

Patut disyukuri, entah faktor keberuntungan atau merupakan hasil kerja kewaspadaan yang tinggi, Indonesia belum pernah melaporkan adanya penyakit ebola. 

Scientists menemukan bahwa ada empat tipe orthoebolavirus yang menimbulkan gejala penyakit pada manusia yaitu Orthoebolavirus Zairense, Orthoebolavirus Sudanse, Orthoebolavirus Taiense, dan Orthoebolavirus Bundibugyo. 

Outbreak di Kongo dan Uganda pada tahun ini disebabkan oleh tipe Orthoebolavirus Bundibugyo. 

Kabarnya, hingga saat ini Scientists masih mempelajari mekanisme kerja “perlindungan silang” antibodi dari keempat tipe virus ini pada survivors yang pernah terinfeksi salah satu tipe. 

Hal ini dipicu dari kejadian pada tahun 2019, ditemukan vaksin  yang sudah disetujui oleh Food and Drugs American (FDA) untuk melindungi dari serangan Orthoebolavirus Zairense namun tidak dapat melindungi dari infeksi Orthoebolavirus Sudanse pada outbreak tahun 2022. 

Awal mulanya virus ebola menular dari hewan seperti kelelawar buah atau primata ke manusia (zoonosis) dan telah mengalami perluasan mekanisme penularan dari dari manusia ke manusia. 

Scientists meyakini bahwa African fruit Bats menjadi sumber penular orthoebolavirus dan menyebar ke binatang lain melalui cairan tubuh atau benda yang terkontaminasi cairan tubuh tersebut. 

Infeksi dari binatang kepada manusia dikenal dengan istilah Spillover Even yang dapat terjadi pada saat berburu, membawa atau memegang serta mengkonsumsi binatang yang terinfeksi orthoebolavirus.

Media penularan orthoebolavirus versi “human to human” melalui cairan tubuh penderita atau korban yang meninggal karena ebola seperti darah, ludah, urine, air mata, keringat, muntahan, ASI, air ketuban, cairan vagina dan cairan mani. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved