Opini
Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar
Sebab rumah tidak pernah benar benar diuji dari warna cat di dindingnya. Rumah diuji dari dapurnya.
Namun belum tentu semakin dekat dengan kecemasan yang hidup di rumah rumah kecil di kampung kampung.
Kita semakin mahir membangun instrumen untuk mengatasi kemiskinan, tetapi belum tentu semakin memahami pengalaman hidup orang miskin.
Kita semakin fasih berbicara tentang pemberdayaan, tetapi belum tentu semakin akrab dengan mereka yang hendak diberdayakan.
Persoalannya tidak lagi sekadar soal program yang berhasil atau gagal. Persoalannya adalah cara kita memahami pembangunan.
Kita terlalu sering membayangkan bahwa pembangunan akan otomatis hadir ketika lembaga bertambah, modal meningkat dan program diperbanyak.
Padahal sejarah pembangunan menunjukkan bahwa pertumbuhan kelembagaan tidak selalu identik dengan pertumbuhan kesejahteraan.
Lembaga, modal dan program dapat bertambah tanpa otomatis membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.
Realitas pekerja migran memperlihatkan gejala itu dengan sangat telanjang. Ketika kesempatan ekonomi lokal tidak cukup kuat, banyak warga memilih pergi.
Mereka meninggalkan rumah, orang tua, pasangan dan anak anak dengan harapan dapat menemukan kehidupan yang lebih baik di negeri orang.
Namun harapan itu tidak selalu kembali dalam bentuk keberhasilan. Data BP3MI NTT menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat 127 pekerja migran asal NTT meninggal dunia di luar negeri (Antara, 2026).
Angka itu tidak pernah benar benar menceritakan luka yang sesungguhnya. Di banyak rumah di NTT, koper keberangkatan masih tersimpan di sudut kamar. Foto ketika berangkat masih tergantung di dinding.
Orang tua masih mengingat hari ketika anak mereka berpamitan dengan janji akan pulang membawa kehidupan yang lebih baik. Namun yang kembali bukan lagi orang yang dulu berangkat. Yang kembali adalah peti jenazah.
Tidak sedikit keluarga yang kemudian menyadari bahwa yang mereka kirim keluar negeri sesungguhnya bukan hanya seorang anak atau seorang ayah. Mereka sedang mengirim harapan terakhir keluarga itu sendiri.
Karena itu ketika yang pulang adalah peti jenazah, yang terkubur bukan hanya satu kehidupan, tetapi juga sebagian harapan yang selama ini mereka pertahankan.
Ketika Amos Masuk ke Ruang Rapat
Di sinilah Amos 8: 4-7 menjadi lebih dari sekadar teks keagamaan. Teks ini menawarkan cara membaca realitas. Amos tidak sedang berbicara kepada masyarakat yang gagal membangun ekonomi.
John Mozes Hendrik Wadu Neru
Opini Pos Kupang
Om Kobus
Mama Maria
Veronika
Gereja Masehi Injili di Timor
Pendeta GMIT
Klasis Sabu Timur
Meaningful
NTT
| Opini: Manfaat Digitalisasi Bagi Petani dalam Meningkatkan Usahatani |
|
|---|
| Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda |
|
|---|
| Opini: Mengenal Orthoebolavirus, Sebentuk Ancaman Kesehatan Masyarakat Global yang Nyata |
|
|---|
| Opini - Teologi Pembebasan Katolik di Tengah Revolusi AI: Membaca Magnifica Humanitas |
|
|---|
| Opini: Ketika Sekolah Menjauhkan Murid dari Layar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-06.jpg)