Opini
Opini: Ketika Sekolah Menjauhkan Murid dari Layar
Belakangan ini beberapa negara mulai mengambil langkah serius terkait penggunaan gadget dan media sosial pada anak-anak.
Oleh: Antonetta Maryanti Lengo *
POS-KUPANG.COM - Pemandangan saat ujian berlangsung di SMA Kristen Indonesia Sejahtera terasa seperti potongan masa lalu.
Hampir semua murid memegang buku sebelum ujian dimulai maupun saat jam istirahat 30 menit.
Dulu, saat saya masih duduk di bangku sekolah situasinya kurang lebih sama seperti ini.
Yang membedakannya adalah waktu itu belum ada handphone. Semua pembelajaran mengandalkan buku pelajaran atau buku cetak.
Buku yang dipakai pada masa itu adalah buku-buku terbitan Intan Pariwara, Balai Pustaka, Ganeca, dan yang paling terkenal dan juga termahal adalah Erlangga.
Baca juga: Opini: Belajar Mendalam atau Sekadar Rumit?
Masing-masing terbitan biasanya memuat informasi tambahan yang berbeda. Dalam setiap pertemuan bapak dan ibu guru akan memberikan informasi lebih dan kami harus mencatat.
Malas mencatat bisa berakibat pada nilai bisa berkurang, karena biasanya informasi tambahan dari sumber buku lain yang digunakan oleh bapak ibu guru akan keluar saat ujian.
Alhasil, menjelang ujian dan saat pergantian ke jam ujian berikutnya suasana menjadi ramai. Yang malas mencatat, atau catatannya tidak lengkap akan berburu catatan.
Meminjam catatan teman yang rajin menulis, lalu pergi fotokopi bersama-sama. Itu juga kalau temannya mau kasih pinjam kalau tidak berarti siap-siap ada saja nomor yang terluput untuk dijawab.
Sekarang, sejak handphone menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, pemandangan seperti itu semakin jarang terlihat di sekolah-sekolah.
Informasi dan pengetahuan memang menjadi jauh lebih mudah diakses, tetapi di saat yang sama buku perlahan mulai ditinggalkan.
Sayangnya, handphone sering kali tidak lagi digunakan untuk belajar, melainkan lebih banyak untuk hiburan tanpa batas: scrolling media sosial, bermain game, menonton video pendek berjam-jam, hingga membuat anak semakin sulit fokus pada proses belajar yang tenang.
Namun, di SMA Kristen Insonesia Sejahtera, murid-murid tidak menggunakan handphone baik itu di asrama maupun saat pembelajaran berlangsung. Mereka hanya boleh menggunakan Chromebook jika memang diminta oleh guru.
Di luar jam pelajaran pun, penggunaan perangkat hanya boleh di akses selama satu jam dan hanya untuk mengerjakan tugas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonetta-Maryanti-Lengo.jpg)