Breaking News
Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar

Sebab rumah tidak pernah benar benar diuji dari warna cat di dindingnya. Rumah diuji dari dapurnya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Namun bagi jutaan pekerja informal di NTT, angka itulah yang harus menjangkau kebutuhan satu hari penuh. 

Dari angka itulah mereka membeli beras, membayar ongkos sekolah, menolong anggota keluarga yang sakit dan mempertahankan harapan agar kehidupan esok tidak lebih sulit dari hari ini.

Pada saat yang sama, tingkat kemiskinan NTT masih berada pada kisaran 18,60 persen atau sekitar 1,09 juta jiwa (Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2025). Angka angka itu bukan sekadar statistik. 

Angka angka itu memiliki wajah. Wajah itu mungkin adalah Om Kobus yang cemas menunggu hujan. Wajah itu mungkin adalah Mama Maria yang menghitung uang hasil jualan sebelum tidur. 

Wajah itu mungkin adalah Veronika, seorang anak muda yang mulai percaya bahwa masa depan lebih mudah ditemukan jauh dari kampung halamannya daripada di tanah yang dicintainya sendiri. 

Wajah itu mungkin adalah Om Strom, nelayan yang setiap hari berangkat ke laut tanpa kepastian apakah hasil tangkapannya cukup untuk membawa pulang penghidupan yang layak.

Karena itu perhatian publik terhadap RUPS Bank NTT Tahun 2026 sesungguhnya bukan hanya persoalan kelembagaan. Dalam forum tersebut dilakukan perubahan struktur pengurus dari dua belas menjadi delapan orang. 

Target dividen bagi Pemerintah Provinsi NTT juga kembali berada pada kisaran sekitar Rp29,6 miliar, sementara Bank NTT memperoleh tambahan penyertaan modal sebesar Rp38 miliar dari Pemerintah Provinsi NTT, Kabupaten Malaka dan Kabupaten Alor (Detik Bali, 2026; Victory News, 2026).

Semua itu dapat dipahami sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas lembaga. 

Namun justru karena uang publik masuk ke dalam lembaga publik, maka pertanyaan yang lebih mendasar harus diajukan. 

Ketika modal bertambah, apakah akses masyarakat kecil terhadap pembiayaan ikut bertambah? 

Ketika tata kelola diperbaiki, apakah kehidupan petani, nelayan, pedagang kecil dan pelaku usaha mikro ikut menjadi lebih kuat? 

Sebab masyarakat tidak hidup dari laporan tahunan. Masyarakat hidup dari kemampuan membeli beras, membayar sekolah anak dan mempertahankan harapan di tengah ketidakpastian.

Inflasi Kelembagaan dan Defisit Kedekatan terhadap Kehidupan

Di sinilah saya melihat sebuah gejala yang semakin jelas dalam pembangunan kita. NTT tampaknya tidak sedang mengalami kekurangan kelembagaan. 

Sebaliknya, kita sedang menghadapi inflasi kelembagaan dan defisit kedekatan terhadap kehidupan. Kita semakin kaya program, forum, struktur dan organisasi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved