Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar

Sebab rumah tidak pernah benar benar diuji dari warna cat di dindingnya. Rumah diuji dari dapurnya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Ketika Pembangunan Semakin Kaya Lembaga, Tetapi Semakin Sulit Menemukan Manusia

Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta Gereja Masehi Injili di Timor ( GMIT) di Klasis Sabu Timur, Nusa Tenggara Timur
e-Mail: johnmhwaduneru@gmail.com

POS-KUPANG.COM - Setiap kali musim hujan terlambat datang, Om Kobus kembali berjalan ke kebunnya dengan kecemasan yang sama. 

Ia memeriksa tanah yang mulai mengeras, menghitung tanaman yang tidak tumbuh sebagaimana mestinya, lalu pulang dengan pertanyaan yang tidak pernah mudah dijawab: apakah hasil panen tahun ini cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu biaya sekolah cucunya? 

Di tempat lain, sebelum matahari terbit, Mama Maria sudah lebih dahulu berjalan menuju pasar dengan bakul sayur di tangannya. 

Ia tidak berbicara tentang dividen, tata kelola atau pertumbuhan ekonomi. Yang ia pikirkan adalah apakah dagangannya laku hari itu dan apakah uang yang dibawa pulang cukup untuk membeli beras, minyak goreng dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Baca juga: Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda

Kisah mereka mungkin tidak pernah masuk ke dalam laporan tahunan, tetapi justru dari kehidupan seperti itulah kita seharusnya membaca arah pembangunan. 

Sebab rumah tidak pernah benar benar diuji dari warna cat di dindingnya. Rumah diuji dari dapurnya. 

Dari apakah tungku masih menyala, apakah anak anak masih bisa makan dengan layak dan apakah keluarga masih memiliki harapan untuk esok hari. 

Karena itu, ketika berbicara tentang pembangunan di Nusa Tenggara Timur, saya semakin yakin bahwa persoalan utama kita bukan pertama tama kekurangan program atau lembaga. 

Persoalannya terletak pada cara kita memahami pembangunan itu sendiri. Kita terlalu mudah mengukur keberhasilan dari apa yang tampak di depan rumah, namun tidak cukup sabar untuk masuk ke dapur dan mendengar apa yang sedang dialami penghuninya.

Di tengah berbagai perbincangan tentang pertumbuhan ekonomi, investasi, koperasi dan penguatan kelembagaan, pertanyaan itulah yang terus mengganggu saya: apakah pembangunan sungguh sedang mendekati manusia atau justru semakin menjauh dari kehidupan yang hendak dilayaninya?

Miliaran di Meja Rapat dan Empat Puluh Empat Ribu Rupiah di Dapur

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika ditempatkan berdampingan dengan realitas ekonomi masyarakat NTT

Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat bahwa sekitar 75,28 persen pekerja di NTT berada dalam sektor informal dengan rata rata pendapatan bersih sekitar Rp1,32 juta per bulan (Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2026a). 

Jika dibagi tiga puluh hari, nilainya hanya sekitar Rp 44.000 per hari. Empat puluh empat ribu rupiah itu bahkan lebih kecil dari biaya satu kali makan siang di banyak kota besar Indonesia. 

Namun bagi jutaan pekerja informal di NTT, angka itulah yang harus menjangkau kebutuhan satu hari penuh. 

Dari angka itulah mereka membeli beras, membayar ongkos sekolah, menolong anggota keluarga yang sakit dan mempertahankan harapan agar kehidupan esok tidak lebih sulit dari hari ini.

Pada saat yang sama, tingkat kemiskinan NTT masih berada pada kisaran 18,60 persen atau sekitar 1,09 juta jiwa (Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2025). Angka angka itu bukan sekadar statistik. 

Angka angka itu memiliki wajah. Wajah itu mungkin adalah Om Kobus yang cemas menunggu hujan. Wajah itu mungkin adalah Mama Maria yang menghitung uang hasil jualan sebelum tidur. 

Wajah itu mungkin adalah Veronika, seorang anak muda yang mulai percaya bahwa masa depan lebih mudah ditemukan jauh dari kampung halamannya daripada di tanah yang dicintainya sendiri. 

Wajah itu mungkin adalah Om Strom, nelayan yang setiap hari berangkat ke laut tanpa kepastian apakah hasil tangkapannya cukup untuk membawa pulang penghidupan yang layak.

Karena itu perhatian publik terhadap RUPS Bank NTT Tahun 2026 sesungguhnya bukan hanya persoalan kelembagaan. Dalam forum tersebut dilakukan perubahan struktur pengurus dari dua belas menjadi delapan orang. 

Target dividen bagi Pemerintah Provinsi NTT juga kembali berada pada kisaran sekitar Rp29,6 miliar, sementara Bank NTT memperoleh tambahan penyertaan modal sebesar Rp38 miliar dari Pemerintah Provinsi NTT, Kabupaten Malaka dan Kabupaten Alor (Detik Bali, 2026; Victory News, 2026).

Semua itu dapat dipahami sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas lembaga. 

Namun justru karena uang publik masuk ke dalam lembaga publik, maka pertanyaan yang lebih mendasar harus diajukan. 

Ketika modal bertambah, apakah akses masyarakat kecil terhadap pembiayaan ikut bertambah? 

Ketika tata kelola diperbaiki, apakah kehidupan petani, nelayan, pedagang kecil dan pelaku usaha mikro ikut menjadi lebih kuat? 

Sebab masyarakat tidak hidup dari laporan tahunan. Masyarakat hidup dari kemampuan membeli beras, membayar sekolah anak dan mempertahankan harapan di tengah ketidakpastian.

Inflasi Kelembagaan dan Defisit Kedekatan terhadap Kehidupan

Di sinilah saya melihat sebuah gejala yang semakin jelas dalam pembangunan kita. NTT tampaknya tidak sedang mengalami kekurangan kelembagaan. 

Sebaliknya, kita sedang menghadapi inflasi kelembagaan dan defisit kedekatan terhadap kehidupan. Kita semakin kaya program, forum, struktur dan organisasi. 

Namun belum tentu semakin dekat dengan kecemasan yang hidup di rumah rumah kecil di kampung kampung.

Kita semakin mahir membangun instrumen untuk mengatasi kemiskinan, tetapi belum tentu semakin memahami pengalaman hidup orang miskin. 

Kita semakin fasih berbicara tentang pemberdayaan, tetapi belum tentu semakin akrab dengan mereka yang hendak diberdayakan. 

Persoalannya tidak lagi sekadar soal program yang berhasil atau gagal. Persoalannya adalah cara kita memahami pembangunan. 

Kita terlalu sering membayangkan bahwa pembangunan akan otomatis hadir ketika lembaga bertambah, modal meningkat dan program diperbanyak. 

Padahal sejarah pembangunan menunjukkan bahwa pertumbuhan kelembagaan tidak selalu identik dengan pertumbuhan kesejahteraan. 

Lembaga, modal dan program dapat bertambah tanpa otomatis membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Realitas pekerja migran memperlihatkan gejala itu dengan sangat telanjang. Ketika kesempatan ekonomi lokal tidak cukup kuat, banyak warga memilih pergi. 

Mereka meninggalkan rumah, orang tua, pasangan dan anak anak dengan harapan dapat menemukan kehidupan yang lebih baik di negeri orang. 

Namun harapan itu tidak selalu kembali dalam bentuk keberhasilan. Data BP3MI NTT menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat 127 pekerja migran asal NTT meninggal dunia di luar negeri (Antara, 2026).

Angka itu tidak pernah benar benar menceritakan luka yang sesungguhnya. Di banyak rumah di NTT, koper keberangkatan masih tersimpan di sudut kamar. Foto ketika berangkat masih tergantung di dinding. 

Orang tua masih mengingat hari ketika anak mereka berpamitan dengan janji akan pulang membawa kehidupan yang lebih baik. Namun yang kembali bukan lagi orang yang dulu berangkat. Yang kembali adalah peti jenazah. 

Tidak sedikit keluarga yang kemudian menyadari bahwa yang mereka kirim keluar negeri sesungguhnya bukan hanya seorang anak atau seorang ayah. Mereka sedang mengirim harapan terakhir keluarga itu sendiri. 

Karena itu ketika yang pulang adalah peti jenazah, yang terkubur bukan hanya satu kehidupan, tetapi juga sebagian harapan yang selama ini mereka pertahankan.

Ketika Amos Masuk ke Ruang Rapat

Di sinilah Amos 8: 4-7 menjadi lebih dari sekadar teks keagamaan. Teks ini menawarkan cara membaca realitas. Amos tidak sedang berbicara kepada masyarakat yang gagal membangun ekonomi. 

Ia berbicara kepada masyarakat yang memiliki pasar, perdagangan dan sistem yang berjalan. 

Masalahnya bukan ketiadaan lembaga. Masalahnya adalah manusia mulai dikorbankan demi keberlangsungan sistem itu sendiri.

Ketika Amos mencatat pertanyaan, “Bilakah bulan baru berlalu supaya kita boleh menjual gandum?” (Amos 8:5, Lembaga Alkitab Indonesia, 2019), ia sedang membongkar sebuah mentalitas yang menganggap manusia hanya sebagai bagian dari perhitungan ekonomi. Ibadah masih berlangsung. 

Ritual masih dijalankan. Sistem tetap bekerja namun perhatian terhadap mereka yang lemah semakin menghilang.

Di tangan Amos, persoalannya bukan sekadar ketidakadilan ekonomi. Persoalannya adalah ketika sistem yang seharusnya melayani manusia mulai menuntut manusia untuk melayani sistem. 

Pada titik itulah agama, pasar, kekuasaan dan lembaga dapat berubah menjadi berhala baru yang tampak berhasil dari luar tetapi perlahan kehilangan hati nuraninya.

Karena itu kritik Amos bukan terutama terhadap pasar, uang atau lembaga. Kritiknya diarahkan kepada cara berpikir yang membuat sistem menjadi lebih penting daripada manusia. 

Ketika kita berbicara tentang modal, dividen, target dan pertumbuhan, apakah Om Kobus, Mama Maria, Veronika dan Om Strom masih terlihat? Ataukah mereka perlahan berubah menjadi angka angka kecil yang tenggelam di bawah laporan yang tampak sukses?

Dalam terang Amos, keberhasilan tidak diukur pertama tama dari besarnya modal yang berputar, melainkan dari apakah kehidupan orang kecil ikut dipulihkan. Itulah sebabnya peringatan Amos 8:7 terdengar begitu menggetarkan. Allah tidak melupakan segala perbuatan mereka. 

Manusia bisa lupa. Lembaga bisa lupa. Sejarah bisa lupa. Namun Allah tidak lupa pada mereka yang dikorbankan oleh cara sebuah sistem bekerja.

Mengembalikan Dapur ke Pusat Pembangunan

Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development menegaskan pentingnya pendekatan human centred public services yang menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses kebijakan (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2024). 

Dalam bahasa yang lebih sederhana, pembangunan harus kembali ke dapur. Pembangunan harus terasa di meja makan keluarga, di ruang belajar anak anak, di kebun petani, di perahu nelayan dan di pasar tempat para pedagang kecil mencari nafkah.

Karena itu kita membutuhkan Bank NTT yang kuat, tetapi kuat untuk melayani. Kita membutuhkan koperasi yang banyak, tetapi banyak yang hidup. 

Kita membutuhkan pemerintah yang berani mengambil keputusan, tetapi juga cukup rendah hati untuk mendengar suara yang tidak pernah terdengar di ruang rapat.

Pada akhirnya, rumah rumah biru itu terus mengingatkan saya pada satu kenyataan sederhana. Rumah tidak hidup karena cat di dindingnya. 

Rumah hidup karena ada asap yang naik dari dapurnya, karena ada makanan yang dibagi, karena ada anak yang tetap bisa bermimpi dan karena ada harapan yang bertahan untuk esok hari. 

Rumah yang catnya biru dapat bertahan bertahun tahun. Tetapi rumah yang dapurnya sunyi perlahan kehilangan kehidupan di dalamnya.

Dan mungkin itulah pertanyaan yang sedang dihadapi NTT hari ini. Selama Om Kobus masih cemas menunggu hujan, selama Mama Maria masih menghitung ulang uang belanja sebelum tidur, selama Veronika masih mencari masa depan jauh dari kampung halamannya dan selama Om Strom masih pulang dengan ketidakpastian yang sama dari laut, maka pembangunan belum selesai meskipun laporan tahunan telah ditandatangani dan berbagai indikator menunjukkan kemajuan.

Mungkin persoalan terbesar kita bukan ketika sebuah daerah kekurangan modal. 

Persoalan terbesar muncul ketika sebuah daerah mulai kehilangan kemampuan melihat manusia yang seharusnya menjadi alasan mengapa seluruh modal, program, lembaga dan kebijakan itu dibangun sejak awal. 

Barangkali karena itu ukuran keberhasilan pembangunan tidak pertama tama terletak pada seberapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan, melainkan pada seberapa sedikit orang yang merasa harus meninggalkan rumahnya demi bertahan hidup. 

Sebab rumah yang catnya biru masih dapat berdiri bertahun tahun, tetapi rumah yang dapurnya sunyi perlahan kehilangan kehidupan di dalamnya.
Dan selama suara piring yang kosong masih lebih nyaring daripada suara yang terdengar dari ruang ruang rapat, maka pertanyaan Amos belum selesai dijawab oleh pembangunan kita. (*)

Daftar Rujukan

  • Antara. (2026, January 7). BP3MI: 127 pekerja migran NTT meninggal di luar negeri selama 2025. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/5337661/bp3mi-127-pekerja-migran-ntt-meninggal-di-luar-negeri-selama-2025 
  • Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2025, July 25). Persentase penduduk miskin Provinsi Nusa Tenggara Timur Maret 2025. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. https://ntt.bps.go.id 
  • Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2026, May 21). Jutaan pekerja informal menggerakkan ekonomi NTT. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. https://ntt.bps.go.id/news/2026/05/21/914/-opini--jutaan-pekerja-informal-menggerakkan-ekonomi-ntt.html 
  • Detik Bali. (2026, May 26). Pemprov NTT, Malaka dan Alor suntik modal Bank NTT Rp38 miliar. Detik Bali. https://www.detik.com/bali/bisnis/d-8506516/pemprov-ntt-malaka-dan-alor-suntik-modal-bank-ntt-rp-38-miliar
  • Ekorantt.com. (2026, May 25). RUPS Bank NTT setujui pergantian direksi dan tambahan modal Rp38 miliar. Ekorantt.com. https://ekorantt.com/2026/05/25/rups-bank-ntt-setujui-pergantian-direksi-dan-tambahan-modal-rp38-miliar/
  • Lembaga Alkitab Indonesia. (2019). Alkitab Terjemahan Baru 2. Lembaga Alkitab Indonesia.
  • Organisation for Economic Co-operation and Development. (2024). Global trends in government innovation 2024: Fostering human centred public services. OECD Publishing. https://www.oecd.org
  • Pos Kupang. (2026, May). Opini: Di balik pertumbuhan ekonomi NTT. Pos Kupang Online. https://kupang.tribunnews.com/editorial/963497/opini-di-balik-pertumbuhan-ekonomi-ntt 
  • Victory News. (2026, May). Terbentuk 3.443 Koperasi Merah Putih di NTT, bisa menjadi peluang ekonomi sekaligus ancaman. Victory News. https://www.victorynews.id

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved