Opini
Opini: Ketika Luka Menjadi Pemandangan- NTT dan Kelelahan Merawat Sesama
Melihat Nusa Tenggara Timur hari ini seperti menyaksikan dua wajah yang berjalan berdampingan.
Oleh: Debbie Marleni Sodakain
Pendeta Gereja Masehi Injili di Timor ( GMIT) di Mollo Barat, Timor Tengah Selatan, NTT
e-Mail: dmsodakain@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Di suatu tempat di Nusa Tenggara Timur, seorang ibu mungkin sedang menunggu anaknya pulang dari sekolah yang jaraknya jauh.
Di tempat lain, seorang ayah sedang menghitung kembali uang yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga minggu ini. Ada anak yang menunggu ruang kelas yang lebih layak.
Ada perempuan yang menunggu keadilan setelah mengalami kekerasan. Ada keluarga yang menunggu air bersih mengalir lebih dekat ke rumah mereka.
Mereka tidak saling mengenal dan mungkin tidak pernah bertemu. Namun ada satu pengalaman yang diam diam menghubungkan mereka: mereka sedang menunggu untuk diperhatikan.
Baca juga: Opini: Rumah Biru, Dapur Sunyi dan Miliaran yang Berputar
Pengalaman itu tidak asing bagi banyak orang di Nusa Tenggara Timur. Ia hadir dalam berbagai bentuk: sekolah yang rusak, kemiskinan yang berkepanjangan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, stunting, serta keterbatasan pelayanan dasar.
Berbagai peristiwa itu tampak berbeda, tetapi sesungguhnya mengisahkan luka yang sama. Terlalu banyak manusia masih harus menunggu untuk diperhatikan.
Di sinilah kegelisahan tulisan ini bermula. NTT mungkin tidak sedang kekurangan program pembangunan.
Yang sedang diuji justru kemampuan sosial, institusional dan moral kita untuk memastikan tidak ada manusia yang terluka sendirian terlalu lama.
Potret Kontras: Antara Harapan Baru dan Luka Lama
Melihat Nusa Tenggara Timur hari ini seperti menyaksikan dua wajah yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, berbagai upaya pembangunan terus bergerak maju.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memulai revitalisasi 809 satuan pendidikan di NTT dengan anggaran lebih dari Rp630 miliar (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2026).
Program ini membawa harapan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa terlalu banyak anak telah terlalu lama belajar dalam fasilitas yang tidak layak.
Harapan yang sama tampak dalam gerakan World Book Day 2026 yang melibatkan berbagai pihak untuk memperkuat budaya membaca dan literasi generasi muda (Media Indonesia, 2026).
Antusiasme ribuan pelajar memperlihatkan bahwa masalah utama bukanlah kurangnya semangat belajar, melainkan belum meratanya akses terhadap sumber pengetahuan yang bermutu.
Di bidang ekonomi, Badan Pusat Statistik Provinsi NTT mencatat bahwa pada September 2025 jumlah penduduk miskin masih berada pada angka sekitar 1,03 juta jiwa atau 17,50 persen dari total penduduk (Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2026).
Debbie Marleni Sodakain
kepekaan terhadap sesama
Opini Pos Kupang
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
GMIT
Pendeta GMIT
Gereja Masehi Injili di Timor
| Opini: Doxa Kapitalistik vs Aletheia Masyarakat- Menguji Pancasila dari Hutan Papua |
|
|---|
| Opini: Ekonomi Politik Ketakutan |
|
|---|
| Opini: Menjaga Api Pancasila dari Bumi Ende |
|
|---|
| Opini: Pancasila di Dinding, Krisis Karakter di Ruang Kelas |
|
|---|
| Opini: Meneropong Kualitas Tata Kelola MBG dari Perspektif Produsen dan Konsumen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Debbie-Marleni-Sodakain.jpg)