Senin, 1 Juni 2026

Opini

Opini: Hari Lahir Pancasila dan Magnifica Humanitas di Tengah Ledakan Artificial Intelligence

Ukuran kemajuan yang lebih mendasar terletak pada kemampuan menjaga martabat manusia di tengah perubahan zaman. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GERGORIUS BABO
Gergorius Babo 

Persoalan tongkat penyangga yang saya alami di bandara sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan biaya tambahan atau interpretasi aturan. 

Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana sistem memandang kebutuhan penyandang disabilitas. 

Apakah alat bantu mobilitas dipahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seseorang, ataukah hanya diperlakukan sebagai barang biasa yang tunduk pada logika administratif semata? 

Pertanyaan semacam ini berkaitan langsung dengan makna kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sementara itu, sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menuntut agar seluruh warga negara memperoleh kesempatan dan akses yang setara dalam berbagai aspek kehidupan. 

Keadilan sosial bukan hanya tentang distribusi ekonomi, tetapi juga tentang akses terhadap layanan publik, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan ruang partisipasi sosial yang inklusif. 

Dalam perspektif ini, penyandang disabilitas berhak memperoleh pelayanan yang memungkinkan partisipasi penuh dalam kehidupan bermasyarakat tanpa menghadapi hambatan yang seharusnya dapat dihilangkan.

Di sinilah tantangan era digital mulai terlihat. Perhatian publik saat ini semakin banyak dibentuk oleh algoritma. Media sosial tidak bekerja berdasarkan ukuran keadilan sosial atau kepentingan publik. 

Media sosial bekerja berdasarkan perhatian. Konten yang mampu menghasilkan klik, komentar, tayangan ulang, dan interaksi tinggi akan memperoleh peluang lebih besar untuk terus disebarkan. 

Akibatnya, isu yang memiliki nilai hiburan, unsur kebaruan, atau daya tarik emosional tertentu lebih mudah mendapatkan visibilitas dibandingkan isu yang membutuhkan refleksi sosial yang lebih mendalam.

Kondisi tersebut menciptakan sebuah paradoks. Persoalan yang memiliki dampak besar terhadap kehidupan manusia tidak selalu memperoleh perhatian yang besar. 

Sebaliknya, konten yang tidak memiliki implikasi sosial yang luas dapat mendominasi ruang publik hanya karena lebih sesuai dengan logika algoritma. 

Pada titik ini, perhatian publik tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh urgensi suatu masalah, tetapi oleh kemampuan masalah tersebut beradaptasi dengan mekanisme distribusi digital.

Fenomena lagu Veronika dan pengalaman saya di Bandara Ende memperlihatkan gejala tersebut secara nyata. Keduanya sama-sama viral. 

Keduanya sama-sama memperoleh perhatian publik. Keduanya sama-sama beredar luas karena kerja algoritma. Namun respons sosial yang muncul sangat berbeda. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved