Opini
Opini: Belajar Mendalam atau Sekadar Rumit?
Paulo Freire (1921) menyebut model pendidikan yang hanya mentransfer informasi sebagai banking education.
Oleh: Petrus Redy Partus Jaya
Dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Peneliti bidang Evaluasi Pendidikan.
POS-KUPANG.COM - Belakangan ini istilah deep learning atau pembelajaran mendalam semakin sering muncul dalam diskusi pendidikan di Indonesia.
Kurikulum, pelatihan guru, seminar pendidikan, hingga berbagai konten media sosial mulai ramai membicarakan pentingnya pembelajaran yang mendorong berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan memecahkan masalah.
Gagasan ini tentu menarik karena lahir dari kesadaran bahwa pendidikan tidak lagi cukup hanya berfokus pada hafalan dan penguasaan materi.
Namun di tengah antusiasme itu, ada satu pertanyaan yang menurut saya penting untuk diajukan: apakah pembelajaran mendalam benar-benar sedang diarahkan pada kedalaman cara manusia memahami pengetahuan, atau jangan-jangan kita hanya memperbarui teknik belajar tanpa pernah menyentuh relasi yang lebih reflektif antara manusia, pengetahuan, dan kehidupan?
Baca juga: Opini: Hari Lahir Pancasila dan Magnifica Humanitas di Tengah Ledakan Artificial Intelligence
Pertanyaan itu muncul karena hari ini istilah pembelajaran mendalam sering dipahami secara sangat teknis. Kedalaman belajar diukur dari kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.
Semakin kompleks aktivitas berpikir siswa, semakin dianggap mendalam proses belajarnya.
Padahal manusia tidak selalu menjadi lebih sadar hanya karena berpikir lebih rumit. Seseorang bisa sangat kritis dalam diskusi di dalam kelas tetapi tetap dangkal dalam memahami dirinya sendiri.
Ia mampu menjelaskan teori tentang lingkungan hidup sambil tetap menjalani pola hidup yang merusak alam.
Ia dapat berbicara tentang toleransi dan demokrasi tanpa pernah benar-benar mendengar pengalaman hidup orang lain yang berbeda darinya.
Di titik ini saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam cara pendidikan modern memahami kedalaman belajar. Sekolah terlalu lama memandang pengetahuan sebagai objek yang harus dipindahkan.
Guru menjelaskan, siswa memahami, lalu sistem mengevaluasi sejauh mana pemahaman itu berhasil dicapai.
Bahkan ketika metode pembelajaran berubah menjadi lebih aktif dan kolaboratif, fondasi epistemologisnya sering tetap sama: pengetahuan dipahami sebagai sesuatu yang sudah selesai dan tinggal ditransfer kepada siswa. Padahal belajar tidak sesederhana itu.
Bertrand Russell dalam On Education (1926) pernah mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya membantu manusia berpikir bebas, bukan sekadar menghasilkan kepatuhan intelektual.
Peringatan Russell terasa sangat relevan hari ini ketika sekolah semakin sibuk mengejar performa akademik tetapi perlahan kehilangan ruang refleksi. Kita hidup di zaman yang dipenuhi informasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Petrus-Redy-Partus-Jaya.jpg)