Opini
Opini: Hari Lahir Pancasila dan Magnifica Humanitas di Tengah Ledakan Artificial Intelligence
Ukuran kemajuan yang lebih mendasar terletak pada kemampuan menjaga martabat manusia di tengah perubahan zaman.
Tidak ada yang salah dengan fenomena tersebut. Kreativitas digital layak diapresiasi. AI memang membuka ruang baru bagi masyarakat untuk berkarya dengan cara yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun ketika dua peristiwa tersebut ditempatkan berdampingan, muncul sebuah refleksi yang menarik.
Mengapa karya yang lahir dari interaksi manusia dengan AI mampu memperoleh perhatian yang sangat luas dari media, publik, dan berbagai pemangku kepentingan, sementara isu yang berkaitan dengan aksesibilitas, hak-hak penyandang disabilitas, dan martabat kelompok rentan tidak memperoleh resonansi sosial yang setara?
Pertanyaan ini bukan lahir dari rasa iri terhadap perhatian yang diterima oleh kreator lagu Veronika. Pertanyaan ini muncul dari kegelisahan mengenai arah perhatian publik di era digital.
Ada sesuatu yang perlu direnungkan ketika ruang publik lebih mudah tergerak oleh produk algoritmik dibandingkan oleh persoalan yang menyentuh langsung kehidupan manusia.
Fenomena tersebut menjadi semakin relevan setelah Paus Leo XIV menerbitkan Ensiklik Magnifica Humanitas, sebuah dokumen yang mengangkat tema perlindungan martabat manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
Ensiklik tersebut hadir pada saat dunia sedang mengalami transformasi digital yang sangat cepat.
Teknologi tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi mulai memengaruhi cara manusia bekerja, belajar, berinteraksi, membangun identitas, bahkan memahami realitas sosial.
Dalam dokumen tersebut, Paus Leo XIV tidak menolak AI. Sebaliknya, perkembangan teknologi diakui sebagai hasil kreativitas manusia yang dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan.
Namun, ensiklik tersebut mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggeser manusia dari pusat perhatian moral.
Manusia tidak boleh direduksi menjadi data, angka, statistik, produktivitas, atau performa digital.
Martabat manusia harus tetap menjadi ukuran utama dalam setiap perkembangan teknologi.
Pesan tersebut sesungguhnya memiliki resonansi yang kuat dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila kedua dan sila kelima.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengandung pengakuan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati tanpa memandang kondisi fisik, latar belakang sosial, agama, suku, maupun status ekonomi.
Dalam konteks penyandang disabilitas, sila kedua menuntut adanya perlakuan yang menghargai kebutuhan khusus sebagai bagian dari hak asasi manusia, bukan sebagai bentuk keistimewaan yang diberikan atas dasar belas kasihan.
Baca juga: Opini: Menyembelih Ego di Altar Kehidupan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gergorius-Babo-05.jpg)