Opini
Opini: Moderasi Versus Ambiguitas
Dalam wacana kontemporer, moderasi beragama sering dipahami sebagai tidak ekstrem, tidak keras, dan menjaga harmoni sosial.
Oleh: Hendrikus Maku, SVD
Pegiat Dialog Lintas Agama, Tinggal di Maumere, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Kisah “Kami Tidak Tahu” dalam Mrk. 11:27–33 relevan dengan isu moderasi beragama.
Kisah itu menyingkap aneka perbedaan antara moderasi yang autentik dan kompromi yang oportunistik.
"Beberapa waktu sesudah mengusir para pedagang dari halaman bait Allah, Yesus dan para murid-Nya tiba kembali di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?”
Jawab Yesus kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!”
Mereka memperbincangkannya di antara mereka, ... Lalu mereka menjawab Yesus: “Kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”
Baca juga: Opini: Menyembelih Ego di Altar Kehidupan
Dalam wacana kontemporer, moderasi beragama sering dipahami sebagai tidak ekstrem, tidak keras, dan menjaga harmoni sosial.
Namun kisah ini memperingatkan bahwa ada versi “palsu” dari moderasi, yaitu bersikap abu-abu demi keamanan, bukan demi kebenaran.
Para elite religius memilih “tidak tahu”: bukan untuk menjaga dialog, tetapi untuk menghindari risiko.
Moderasi bisa tergelincir menjadi ambigu moral jika kehilangan komitmen pada kebenaran.
“Jalan tengah” tanpa prinsip bisa berubah menjadi jalan aman tanpa integritas. Padahal, arti dari moderasi adalah berimbang namun tegas, bukan netral tanpa komitmen.
Moderasi Tidak Boleh Mengorbankan Kebenaran
Yesus tidak menolak dialog, tetapi Ia menolak ketidakjujuran intelektual. Moderasi versi Yesus bukan berarti “semua benar” dan bukan pula “tidak usah menentukan sikap”.
Para imam kepala, ahli taurat, dan penatua dalam kisah itu tahu jawabannya, tetapi mrk menolak konsekuensi.
Dalam kehidupan beragama hari ini, demi toleransi, orang seringkali menghindari kritik terhadap ketidakadilan, membiarkan kebohongan demi “kerukunan”.
Kisah "kami tidak tahu" mengingatkan, moderasi tidak identik dengan kompromi terhadap kebenaran, melainkan cara menyampaikan kebenaran tanpa kekerasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hendrikus-Maku-05.jpg)