Sabtu, 30 Mei 2026

Opini

Opini: Hari Lahir Pancasila dan Magnifica Humanitas di Tengah Ledakan Artificial Intelligence

Ukuran kemajuan yang lebih mendasar terletak pada kemampuan menjaga martabat manusia di tengah perubahan zaman. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GERGORIUS BABO
Gergorius Babo 

Oleh: Gergorius Babo
Warga Difabel Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Tanggal 1 Juni selalu menghadirkan ruang refleksi bagi bangsa Indonesia. 

Pada hari itulah Pancasila dikenang sebagai dasar negara sekaligus fondasi moral yang membimbing kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Setiap tahun, berbagai institusi menyelenggarakan upacara, seminar, diskusi, dan kampanye publik untuk menegaskan kembali pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi tantangan zaman. 

Namun pada era digital yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), algoritma media sosial, dan budaya viralitas, peringatan Hari Lahir Pancasila perlu dimaknai lebih dari sekadar seremoni. 

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah nilai-nilai Pancasila masih menjadi landasan dalam menentukan apa yang dianggap penting oleh masyarakat, ataukah perhatian publik kini lebih banyak ditentukan oleh logika algoritma yang bekerja di balik layar berbagai platform digital.

Baca juga: Opini: Pancasila dalam Anggaran

Pertanyaan tersebut muncul dari pengalaman yang saya alami beberapa waktu lalu di Bandara Haji Aroeboesman Ende. 

Saat hendak melakukan perjalanan udara, saya mempersoalkan pembebanan biaya terhadap tongkat penyangga (crutch) yang saya gunakan sebagai alat bantu mobilitas. Terjadi perdebatan dengan petugas terkait status alat bantu tersebut. 

Dalam proses itu, saya meminta izin untuk merekam percakapan yang berlangsung. Rekaman tersebut kemudian saya unggah ke Facebook dan TikTok disertai pandangan sebagai orang yang mengalami langsung kejadian tersebut.

Respons publik yang muncul cukup besar. Video itu menyebar luas, mendapat banyak komentar, dibagikan berulang kali, dan menurut banyak pengguna media sosial masuk ke dalam halaman rekomendasi atau FYP. 

Perbincangan yang muncul tidak hanya melibatkan pengguna media sosial biasa, tetapi juga mendorong respons dari pihak maskapai dan pengelola bandara. 

Sebagai warga negara dan penyandang disabilitas, saya tentu mengapresiasi perhatian tersebut karena persoalan yang disampaikan memperoleh ruang dalam diskusi publik.

Namun beberapa minggu kemudian, ruang digital Indonesia diramaikan oleh fenomena lain. Lagu Veronika yang diciptakan dengan bantuan AI menjadi viral di berbagai platform media sosial. 

Lagu tersebut diputar jutaan kali, digunakan dalam beragam konten kreatif, dan terus bermunculan di beranda pengguna internet. 

Sang prompter memperoleh perhatian yang luar biasa. Berbagai media mengundang untuk wawancara, sejumlah acara menghadirkan sebagai narasumber, bahkan tidak sedikit pihak yang tertarik mengetahui proses kreatif di balik lahirnya karya tersebut.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved