Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini - Gejala Dunia Modern: Fenomena Triumfalisme yang Mengancam Toleransi di NTT

NTT merupakan daerah yang sangat menjunjung tinggi toleransi dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya adalah aspek agama.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Fr. Irenius Andika Tutu, mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang 

Yesus menegur perbuatan triumfalisme mereka karena mereka sombong dan menganggap diri paling benar dari orang tersebut.

Jawaban Yesus sungguh mengejutkan dan memberi pemahaman penting yakni siapa yang tidak melawan kita maka ia ada di pihak kita.

Kemudian selanjutnya fenomena triumfalisme terus dilawan karena tidak sesuai dengan nilainilai Kristiani. 

Dalam Gereja Katolik khususnya pada Konsili Vatikan II gerakan atau budaya triumfalisme ini mulai dihapus dengan atau melalui refleksi mendalam dari para bapa konsili.

Triumfalisme adalah suatu keadaan atau situasi ketika menganggap pihak lain tidak benar dan salah atau ingin mengalahkan dan menguasai orang lain.

Maka, Paus Paulus VI sejak konsili Vatikan II telah menegaskan sikap triumfalisme sebagai sikap tidak benar sesuai ajaran Gereja. 

Gereja yang telah membarui diri dan membuka diri terhadap segala kemajuan dan perkembangan dunia menegaskan bahwa setiap agama, suku, dan budaya memiliki setiap nilai kebenaran yang terkandung di dalamnya.

Maka menurut teologi Kontekstual yang berbicara secara khusus mengenai toleransi, mengatakan bahwa semua agama atau budaya dan tradisi memiliki kebenaran yang harus dihormati dengan sikap toleransi atau menghargai serta lebih dari itu sikap saling peduli dan membantu merupakan sikap utama dan penting dalam penghargaan terhadap agama, budaya, dan tradisi orang lain.

Terdapat Berbagai hal yang dapat dilakukan untuk melawan dan meredam sikap triumfalisme yaitu menghargai perbedaan orang lain, membantu, peduli pada penderitaan orang lain, berkomunikasi, dan saling mengunjungi serta bekerja sama.

Fenomena triumfalisme ini muncul ketika masyarakat NTT tidak lagi melihat diri, menyadari dirinya, menghayati hidupnya sebagai satu kesatuan, memahami dirinya sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tetapi selalu membutuhkan orang lain.

Terdapat banyak pelajaran yang dapat diperoleh dari masing-masing suku, agama, ras, dan lainnya. Salah satu contoh yakni agama Katolik dan agama Protestan yang saling belajar yakni agama Katolik dapat belajar penekanan Kitab Suci dengan membaca dan merenungkan, partisipasi awam, dan kebebasan bereksperimen.

Sedangkan yang agama Protestan dapat belajar dari agama Katolik yakni penghargaan pada sakramen, kesatuan dalam keberagaman, dan kedalaman teologis.

Dengan demikian, gejala dunia modern yang saat ini terjadi yakni fenomena triumfalisme tidak dapat mengancam budaya toleransi yang ada di NTT. 

Kendati pun saat ini gencar tetapi akan hilang perlahan-lahan bila seluruh masyarakat NTT sungguh menyadari akan persatuan dan penghargaan terhadap orang lain. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved