Opini
Opini: Ketika Keberanian Bicara- Pelajaran Etika dari Sebuah Protes di Panggung LCC
Tindakan siswi SMA 1 Pontianak itu adalah buah dari pendidikan dialogis yang membebaskan, bukan banking education yang membelenggu.
Oleh: Antonius Kapitan
Dosen Filsafat Etika Fakultas Filsafat Unwira Kupang,_pelaku Pendidikan Perbatasan.
POS-KUPANG.COM - Momen langka dalam sejarah pendidikan tertoreh. Seorang remaja mengungkapkan keberaniannya.
Dalam arena Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan, seorang siswi SMA Negeri 1 Pontianak, Kalimantan Barat, memprotes keputusan dewan juri yang memberikan nilai minus 5 bagi timnya atas sebuah jawaban yang sesungguhnya benar dan tepat.
Saya membaca berita itu berulang kali. Dan semakin saya membacanya, semakin saya meyakini bahwa tindakan siswi tersebut bukan sekadar cerita menarik tentang keberanian individual.
Ini adalah peristiwa yang sarat makna filosofis dan pedagogis, sebuah pelajaran hidup tentang keberanian moral, integritas intelektual, dan apa artinya sungguh-sungguh memahami demokrasi dan keadilan, bukan sekadar menghafalnya untuk lomba.
Baca juga: Opini: Ocha Pemenang Sejati
Mari kita mulai dari konteks lomba itu sendiri. Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan. Empat pilar yang dimaksud adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.
Empat pilar ini merupakan fondasi kehidupan berbangsa. Di antara nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ada prinsip keadilan, kebenaran, dan penghormatan terhadap hak setiap warga negara.
Ironi yang menyakitkan terjadi ketika sebuah lomba yang bertujuan menginternalisasi nilai-nilai tersebut justru mempraktikkan sebaliknya. Keputusan tidak adil, tidak mau dikoreksi, dan otoritas dewan juri ditempatkan di atas kebenaran faktual.
Dalam filsafat etika, dikenal moral courage (Yunani, andreia), keberanian moral. Ini berbeda dari keberanian fisik.
Keberanian moral adalah kemampuan seseorang untuk bertindak sesuai dengan keyakinan etisnya meskipun ada tekanan sosial, risiko reputasi, atau konsekuensi negatif yang mengancam.
Aristoteles menyebutnya sebagai salah satu kebajikan yang paling esensial. Keberanian bukan sebagai ketiadaan rasa takut, melainkan sebagai kemampuan untuk bertindak benar meskipun takut.
Bayangkan situasi yang dihadapi siswi tersebut. Ia berada di sebuah panggung lomba bergengsi tingkat nasional.
Di depannya ada dewan juri yang memegang otoritas formal. Di sekelilingnya ada sorotan kamera, penonton, dan tekanan untuk bersikap sopan dan menerima keputusan.
Dalam situasi seperti itu, mayoritas orang, termasuk banyak orang dewasa, akan memilih diam. Menelan ketidakadilan demi menjaga kesopanan.
Menyimpan protes di dalam hati sambil tersenyum di depan juri. Itulah yang disebut sebagai ‘aman’ secara sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonius-Kapitan.jpg)