Opini
Opini: Harapan Eliminasi Tuberkulosis Itu Bernama Anak-Anak
Ironisnya, kasus TBC pada anak sering kali terlambat ditemukan karena gejalanya dianggap tidak khas.
Oleh: Sabinus B. Kedang
Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Pagi itu suasana di Desa Baumata Utara, Kabupaten Kupang, tampak berbeda.
Anak-anak usia batita, balita hingga usia sekolah datang bersama orang tua mereka untuk mengikuti skrining tuberkulosis (TBC) paru.
Sebagian tampak penasaran melihat alat X-ray portabel yang berdiri di lokasi skrining kesehatan Gereja GMIT Santetus Oeika. Sebagian lagi saling bercanda sambil menunggu giliran pemeriksaan.
Tidak terlihat rasa takut berlebihan sebagaimana yang sering dibayangkan orang dewasa ketika mendengar kata TBC.
Baca juga: 644 Kasus TBC Sepanjang 2025, Dinkes Belu Intensifkan ACF Hingga Desa/Kelurahan
Pengalaman tersebut menjadi refleksi yang sangat mendalam bagi saya sebagai dosen keperawatan anak.
Di tengah berbagai tantangan pengendalian TBC di Indonesia, saya justru melihat harapan besar dari keberanian anak-anak yang mau diperiksa sejak dini.
Mereka datang tanpa stigma, tanpa rasa malu, dan tanpa prasangka. Sesuatu yang justru sering menjadi hambatan dalam penanggulangan TBC pada orang dewasa seperti yang dikatakan seorang ibu dalam bahasa Kupang “beta pung tetangga sonde mau datang karena takut foto, padahal cepat sa”.
Selama ini diskusi tentang TBC lebih banyak berfokus pada pasien usia dewasa, angka kejadian, pengobatan, dan target program kesehatan.
Padahal, anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap penularan TBC, terutama bila tinggal serumah dengan penderita TBC aktif.
Ironisnya, kasus TBC pada anak sering kali terlambat ditemukan karena gejalanya dianggap tidak khas.
Batuk yang berlangsung lama, berat badan yang sulit naik, anak yang tampak lemah, atau demam ringan yang berulang sering dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa.
Tidak sedikit keluarga baru membawa anak ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah semakin berat.
Dampaknya, proses pengobatan dan perawatan menjadi lebih panjang serta risiko gangguan tumbuh kembang anak semakin besar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa deteksi dini TBC pada anak masih menjadi tantangan besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sabinus-B-Kedang.jpg)