Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Opini: Membangun Komunikasi Kasih di Tengah Dunia yang Ramai Bicara

Manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet, tetapi juga kehangatan relasi yang mampu memulihkan kemanusiaannya.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FIDEL DARSO
Fidel Darso 

Oleh: Fidel Darso
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di era digital, manusia bukan paradoks komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya: semua orang dapat berbicara  tetapi semakin sedikit yang sungguh-sungguh mendengar. 

Informasi bergerak tanpa henti, percakapan hadir di setiap layar tetapi relasi antarmanusia justru semakin rapuh. 

Kita hidup di zaman ketika kata-kata melimpah, tetapi ketulusan perlahan menghilang. Generasi digital hari ini tidak kekurangan ruang untuk berbicara. 

Sebaliknya, mereka hidup dalam ledakan komunikasi yang terus bergerak setiap detik. 

Baca juga: Opini: Pesta Babi- Tamparan Bagi Negara yang Gagal Berpesta Secara Manusiawi

Media sosial memungkinkan setiap orang menyampaikan pendapat, menanggapi isu, bahkan memengaruhi pandangan publik hanya melalui satu unggahan singkat. 

Namun di balik kemudahan itu, muncul satu persoalan besar: komunikasi semakin kehilangan kasih.

Fenomena ini terasa nyata dalam kehidupan sehar-hari. Media sosial dipenuhi hujatan, sindiran, fitnah, dan bahkan penghakiman yang diproduksi tanpa jeda. Perbedaan pendapat politik mudah berubah menjadi permusuhan. 

Kritik kerap kali disampaikan tanpa etika. Bahkan rasa hormat dapat hilang hanya karena seseorang memiliki pilihan atau pandangan yang berbeda.

Komunikasi yang Kehilangan Arah

Perkembangan teknologi digital sebenarnya membawa harapan besar bagi kehidupan manusia. Komunikasi menjadi lebih cepat, praktis, dan terbuka. 

Orang dapat terhubung lintas daerah dan negara dalam hitungan detik. Namun kelimpahan komunikasi ini tidak otomatis melahirkan kedekatan. 

Yang terjadi justru paradoks baru: manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin terasing secara emosional.

Hari ini banyak orang berbicara hanya untuk bereaksi, bukan untuk memahami. Kata-kata bergerak lebih cepat daripada refleksi. Orang lebih mudah menghakimi daripada mendengarkan. 

Sesuatu dianggap benar bukan karena telah dipikirkan secara matang, melainkan karena sesuai dengan emosi dan mendapat dukungan banyak orang. 

Generasi digital tumbuh dalam budaya komunikasi yang serba cepat. Mereka terbiasa memberi respons instan, tetapi tidak selalu terbiasa membangun dialog yang mendalam. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved