Opini
Opini: Membangun Komunikasi Kasih di Tengah Dunia yang Ramai Bicara
Manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet, tetapi juga kehangatan relasi yang mampu memulihkan kemanusiaannya.
Oleh: Fidel Darso
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Di era digital, manusia bukan paradoks komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya: semua orang dapat berbicara tetapi semakin sedikit yang sungguh-sungguh mendengar.
Informasi bergerak tanpa henti, percakapan hadir di setiap layar tetapi relasi antarmanusia justru semakin rapuh.
Kita hidup di zaman ketika kata-kata melimpah, tetapi ketulusan perlahan menghilang. Generasi digital hari ini tidak kekurangan ruang untuk berbicara.
Sebaliknya, mereka hidup dalam ledakan komunikasi yang terus bergerak setiap detik.
Baca juga: Opini: Pesta Babi- Tamparan Bagi Negara yang Gagal Berpesta Secara Manusiawi
Media sosial memungkinkan setiap orang menyampaikan pendapat, menanggapi isu, bahkan memengaruhi pandangan publik hanya melalui satu unggahan singkat.
Namun di balik kemudahan itu, muncul satu persoalan besar: komunikasi semakin kehilangan kasih.
Fenomena ini terasa nyata dalam kehidupan sehar-hari. Media sosial dipenuhi hujatan, sindiran, fitnah, dan bahkan penghakiman yang diproduksi tanpa jeda. Perbedaan pendapat politik mudah berubah menjadi permusuhan.
Kritik kerap kali disampaikan tanpa etika. Bahkan rasa hormat dapat hilang hanya karena seseorang memiliki pilihan atau pandangan yang berbeda.
Komunikasi yang Kehilangan Arah
Perkembangan teknologi digital sebenarnya membawa harapan besar bagi kehidupan manusia. Komunikasi menjadi lebih cepat, praktis, dan terbuka.
Orang dapat terhubung lintas daerah dan negara dalam hitungan detik. Namun kelimpahan komunikasi ini tidak otomatis melahirkan kedekatan.
Yang terjadi justru paradoks baru: manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin terasing secara emosional.
Hari ini banyak orang berbicara hanya untuk bereaksi, bukan untuk memahami. Kata-kata bergerak lebih cepat daripada refleksi. Orang lebih mudah menghakimi daripada mendengarkan.
Sesuatu dianggap benar bukan karena telah dipikirkan secara matang, melainkan karena sesuai dengan emosi dan mendapat dukungan banyak orang.
Generasi digital tumbuh dalam budaya komunikasi yang serba cepat. Mereka terbiasa memberi respons instan, tetapi tidak selalu terbiasa membangun dialog yang mendalam.
| Opini: Pesta Babi- Tamparan Bagi Negara yang Gagal Berpesta Secara Manusiawi |
|
|---|
| Opini: Bangkit dari Penyeragaman-Jalan Baru NTT Keluar dari Kemiskinan |
|
|---|
| Opini: Hantavirus dan Kepanikan Publik-Ketakutan Lebih Cepat Menyebar daripada Virus |
|
|---|
| Opini: Menatap Realita Tambak Garam di NTT- Mengapa Angka 26.000 Tenaga Kerja Hanya Ilusi? |
|
|---|
| Opini: Kampung Halaman- Antara Menemukan dan Menciptakan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fidel-Darso.jpg)