Opini
Opini: Merawat Tutu Koda
Tutu koda berasal dari bahasa Lamaholot yang bermakna bercerita. Namun, tradisi ini memiliki makna yang lebih luas.
Cerita membantu anak memahami perasaan dirinya sendiri. Anak juga belajar membangun empati terhadap penderitaan sesama. Kemampuan emosional penting bagi kehidupan sosial anak-anak. Tutu koda membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang peka.
Sayangnya, pendidikan moral berbasis budaya mulai terpinggirkan sekarang. Anak-anak lebih banyak belajar dari media digital global. Nilai budaya lokal kalah oleh budaya populer modern. Banyak anak mengenal tokoh media sosial daripada leluhur.
Akibatnya, identitas budaya masyarakat menjadi semakin lemah. Krisis etika mulai terlihat dalam kehidupan sosial masyarakat. Kondisi ini menunjukkan pentingnya menghidupkan kembali tutu koda.
Tantangan Digital
Perkembangan teknologi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat modern. Informasi bergerak sangat cepat melalui media digital sekarang ini. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi layar elektronik.
Waktu berbicara bersama keluarga semakin berkurang setiap hari. Kehadiran gawai menggantikan tradisi komunikasi lisan dalam keluarga. Anak lebih sibuk menonton video daripada mendengar cerita. Situasi ini menjadi tantangan bagi kelestarian tutu koda.
Teknologi sebenarnya tidak selalu membawa dampak buruk bagi budaya. Masalah muncul ketika masyarakat melupakan akar budayanya sendiri. Tradisi lisan dianggap kuno dan tidak lagi menarik.
Banyak orangtua merasa tidak memiliki waktu untuk bercerita. Padahal, anak membutuhkan perhatian emosional dari keluarganya. Kehilangan tradisi tutur berarti kehilangan pendidikan budaya lokal. Kondisi ini dapat memutus pewarisan budaya masyarakat Lamaholot.
Di tengah arus modernisasi, tutu koda perlu diadaptasi secara kreatif. Cerita rakyat dapat dipadukan dengan media digital modern. Generasi muda bisa membuat podcast cerita rakyat Lamaholot.
Video pendek budaya dapat memperkenalkan kembali tutu koda. Sekolah juga dapat menghidupkan kegiatan mendongeng budaya daerah. Media sosial harus menjadi ruang promosi budaya lokal. Tradisi lama dapat bertahan melalui penyesuaian dengan zaman.
Karena itu, menjaga tutu koda bukan hanya tugas tetua adat. Semua pihak memiliki tanggung jawab merawat tradisi budaya ini. Orangtua perlu kembali menghadirkan cerita dalam kehidupan keluarga.
Sekolah harus menjadikan budaya lokal sebagai pendidikan karakter anak. Pemerintah daerah perlu mendokumentasikan cerita rakyat masyarakat Lamaholot.
Generasi muda juga harus bangga terhadap warisan budayanya. Jika tutu koda hilang, hilang pula ingatan budaya masyarakat. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)