Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini: Merawat Tutu Koda

Tutu koda berasal dari bahasa Lamaholot yang bermakna bercerita. Namun, tradisi ini memiliki makna yang lebih luas. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Anak-anak Lamaholot hari ini lebih akrab dengan suara notifikasi dari Ponsel pintar daripada suara cerita orangtuanya. 

Malam yang dahulu dipenuhi kisah leluhur kini berubah menjadi ruang sunyi yang diterangi cahaya layar digital. 

Tradisi tutu koda perlahan menghilang bersama perubahan zaman modern. Padahal, dari tradisi lisan itu diwariskan etika dan nilai kehidupan. 

Tutu koda bukan sekadar cerita pengantar tidur anak-anak. Tradisi ini menjadi ruang pendidikan budaya dalam keluarga. Karena itu, menjaga tutu koda berarti menjaga identitas budaya Lamaholot.

Warisan Lisan

Tutu koda berasal dari bahasa Lamaholot yang bermakna bercerita. Namun, tradisi ini memiliki makna yang lebih luas. 

Tutu koda menjadi media pewarisan budaya secara lisan. Dalam cerita hidup sejarah dan mitologi masyarakat. Penutur menyampaikan kisah dari generasi sebelumnya. 

Baca juga: Penamaan Jalan Frans Lebu Raya Jadi Momentum Bersejarah Bagi Keluarga Lamaholot

Pendengar menerima cerita sebagai identitas budaya mereka. Tutu koda menjaga ingatan kolektif masyarakat Lamaholot.

Pada masa lalu, tutu koda hadir dalam kehidupan keluarga. Orangtua bercerita kepada anak-anak menjelang tidur malam. Kisah rakyat disampaikan dengan bahasa sederhana dan hangat. 

Anak-anak belajar memahami kehidupan melalui cerita rakyat. Mereka mengenal keberanian dan kejujuran dari tokoh cerita. Nilai budaya diwariskan tanpa paksaan dan kekerasan. Tradisi tutur membangun suasana keluarga yang harmonis.

Tutu koda lahir sebelum masyarakat mengenal tulisan modern. Karena itu, cerita lisan menjadi media pengetahuan utama. Dalam cerita rakyat tersimpan pandangan hidup masyarakat. 

Kisah-kisah itu menggambarkan relasi manusia dan alam. Setiap cerita mengandung pesan moral yang mendalam. Nilai budaya diwariskan melalui tutur para tetua adat. Tutu koda menjadi arsip hidup kebudayaan Lamaholot.

Tradisi lisan memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Banyak kebudayaan bertahan melalui cerita rakyat dan dongeng. 

Tutu koda menunjukkan kekayaan intelektual masyarakat Lamaholot. Cerita rakyat bukan sekadar hiburan bagi anak-anak kampung. 

Cerita menjadi cermin cara masyarakat memahami kehidupan. Dalam cerita hidup etika dan keyakinan masyarakat. Karena itu, tutu koda perlu terus dilestarikan.

Relasi Keluarga

Tutu koda membangun hubungan emosional dalam keluarga. Orangtua dan anak bertemu dalam suasana yang hangat. 

Cerita menjadi ruang komunikasi yang lembut dan akrab. Anak-anak merasa diperhatikan melalui cerita yang didengar. Dalam proses itu tumbuh rasa aman dan percaya. 

Kedekatan keluarga tumbuh melalui percakapan sederhana setiap malam. Tutu koda menghadirkan kehangatan yang sulit digantikan teknologi.

Tradisi bercerita juga melatih anak untuk mendengarkan orang lain. Anak-anak mengikuti setiap alur cerita dengan perhatian penuh. 

Mereka belajar memahami makna dari setiap peristiwa cerita. Kemampuan menyimak berkembang secara alami melalui tradisi itu. Anak juga belajar memahami emosi dalam kehidupan manusia. Mereka mengenal rasa bahagia, sedih, dan marah. Tutu koda membantu perkembangan mental dan emosional anak.

Di tengah cerita, orangtua biasanya menyisipkan nasihat kehidupan. Pesan moral disampaikan melalui tokoh dan alur cerita. Anak-anak lebih mudah menerima nasihat dengan cara demikian. 

Mereka tidak merasa sedang dimarahi atau dihakimi. Pendidikan karakter berlangsung secara alami dalam keluarga. Anak belajar menghormati orangtua dan menghargai sesama manusia. Nilai moral tumbuh bersama pengalaman mendengar cerita.

Kini, relasi keluarga perlahan berubah akibat perkembangan zaman. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama gawai digital. 

Orangtua juga semakin sibuk dengan pekerjaan modern. Percakapan dalam keluarga menjadi semakin jarang terjadi. 

Ruang kebersamaan digantikan layar telepon pintar yang dingin. Hubungan emosional keluarga perlahan menjadi semakin renggang. Tutu koda kehilangan tempat dalam kehidupan keluarga modern.

Pendidikan Moral

Tutu koda memiliki kekuatan besar membentuk karakter anak-anak. Setiap cerita rakyat mengandung nilai moral yang mendalam. Tokoh baik digambarkan jujur dan penuh keberanian hidup. 

Tokoh buruk diperlihatkan penuh keserakahan dan kebencian. Anak-anak belajar memahami akibat dari tindakan manusia. Pendidikan moral berlangsung melalui pengalaman mendengar cerita rakyat. Karena itu, pesan cerita mudah diterima anak-anak.

Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati orang lain. Anak belajar memahami posisi orangtua dalam kehidupan keluarga. Mereka diajarkan menjaga sopan santun dalam berbicara sehari-hari. 

Cerita rakyat menghadirkan teladan tentang kehidupan yang beretika. Nilai solidaritas dan kepedulian sosial diajarkan melalui kisah. Anak memahami arti kebersamaan dalam kehidupan masyarakat tradisional. Tutu koda menjadi benteng etika masyarakat Lamaholot.

Selain membentuk moral, tutu koda membantu perkembangan emosional anak. Anak belajar mengenali berbagai jenis emosi manusia sehari-hari. Mereka memahami rasa bahagia, sedih, marah, dan kecewa. 

Cerita membantu anak memahami perasaan dirinya sendiri. Anak juga belajar membangun empati terhadap penderitaan sesama. Kemampuan emosional penting bagi kehidupan sosial anak-anak. Tutu koda membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang peka.

Sayangnya, pendidikan moral berbasis budaya mulai terpinggirkan sekarang. Anak-anak lebih banyak belajar dari media digital global. Nilai budaya lokal kalah oleh budaya populer modern. Banyak anak mengenal tokoh media sosial daripada leluhur. 

Akibatnya, identitas budaya masyarakat menjadi semakin lemah. Krisis etika mulai terlihat dalam kehidupan sosial masyarakat. Kondisi ini menunjukkan pentingnya menghidupkan kembali tutu koda.

Tantangan Digital

Perkembangan teknologi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat modern. Informasi bergerak sangat cepat melalui media digital sekarang ini. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi layar elektronik. 

Waktu berbicara bersama keluarga semakin berkurang setiap hari. Kehadiran gawai menggantikan tradisi komunikasi lisan dalam keluarga. Anak lebih sibuk menonton video daripada mendengar cerita. Situasi ini menjadi tantangan bagi kelestarian tutu koda.

Teknologi sebenarnya tidak selalu membawa dampak buruk bagi budaya. Masalah muncul ketika masyarakat melupakan akar budayanya sendiri. Tradisi lisan dianggap kuno dan tidak lagi menarik. 

Banyak orangtua merasa tidak memiliki waktu untuk bercerita. Padahal, anak membutuhkan perhatian emosional dari keluarganya. Kehilangan tradisi tutur berarti kehilangan pendidikan budaya lokal. Kondisi ini dapat memutus pewarisan budaya masyarakat Lamaholot.

Di tengah arus modernisasi, tutu koda perlu diadaptasi secara kreatif. Cerita rakyat dapat dipadukan dengan media digital modern. Generasi muda bisa membuat podcast cerita rakyat Lamaholot

Video pendek budaya dapat memperkenalkan kembali tutu koda. Sekolah juga dapat menghidupkan kegiatan mendongeng budaya daerah. Media sosial harus menjadi ruang promosi budaya lokal. Tradisi lama dapat bertahan melalui penyesuaian dengan zaman.

Karena itu, menjaga tutu koda bukan hanya tugas tetua adat. Semua pihak memiliki tanggung jawab merawat tradisi budaya ini. Orangtua perlu kembali menghadirkan cerita dalam kehidupan keluarga. 

Sekolah harus menjadikan budaya lokal sebagai pendidikan karakter anak. Pemerintah daerah perlu mendokumentasikan cerita rakyat masyarakat Lamaholot

Generasi muda juga harus bangga terhadap warisan budayanya. Jika tutu koda hilang, hilang pula ingatan budaya masyarakat. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News​

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved