Opini
Opini: Rupiah di Titik Nadir, BI Tak Bisa Menggendong Sendiri!
BI bisa memadamkan apinya, tetapi sumber asap hanya akan benar-benar padam jika seluruh otoritas bersedia bekerja bersama.
Oleh: Ronald P.C. Fanggidae
Akademisi Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Awal Mei 2026, rupiah berada di titik nadir, kurs per US dollar menembus Rp17.451.
Publik bertanya-tanya, manakala pelemahan ini terjadi tepat ketika Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen, laju tertinggi sejak pertengahan 2022.
Inflasi inti masih kalem di 2,63 persen, dan Bank Indonesia bahkan menyatakan rupiah saat ini berada 14–15 persen di bawah nilai fundamentalnya.
Maka pertanyaan yang berseliweran di warung kopi pun masuk akal: kalau ekonomi sehat, mengapa nilai mata uang kita justru terus tergerus? Dan apakah Bank Indonesia bisa menggendong sendiri masalah ini?
Baca juga: Opini: Menjaga Marwah Akademik di Tengah Proyek MBG
Jawaban jujurnya adalah tidak. Pelemahan rupiah hari ini bukan pekerjaan satu lembaga, dan jelas bukan persoalan yang bisa diselesaikan hanya dengan intervensi pasar.
Memang benar bahwa faktor eksternal sedang menekan tajam. Ketidakpastian arah kebijakan The Federal Reserve, eskalasi konflik di Timur Tengah, dan perilaku flight to safety ke dolar AS mendorong investor menarik dananya dari pasar negara berkembang.
Sinyal paling kuat bahwa ini soal sentimen, bukan fundamental, justru terletak pada keterputusan antara data pertumbuhan yang membaik dengan pergerakan kurs yang justru sebaliknya.
Tetapi jika tekanan ini hanya bersifat eksternal, mengapa rupiah lebih persisten melemah dibandingkan baht Thailand atau peso Filipina yang menghadapi guncangan global yang sama? Di sinilah kita perlu jujur menyebut bahwa ada masalah struktural domestik yang ikut bermain.
Pertama, twin deficit. Defisit transaksi berjalan yang melebar bersamaan dengan tekanan fiskal menciptakan ketergantungan struktural pada dana asing.
Setiap kali sentimen global memburuk, rupiah ikut terseret lebih dalam. Kedua, struktur modal masuk kita masih didominasi investasi portofolio jangka pendek yang sifatnya cepat keluar, bukan investasi langsung asing (FDI) yang menetap.
Ketiga, persepsi investor terhadap kualitas kelembagaan mulai melemah; Moody's dan Fitch sudah merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada awal 2026 dengan catatan utama menyangkut kepastian kebijakan dan independensi lembaga.
Singkatnya, faktor eksternal adalah pemantik api, sementara kelemahan struktural domestik adalah bahan bakarnya. Tanpa pembenahan dari sisi struktural, intervensi sebesar apa pun akan terus dikuras oleh gelombang sentimen berikutnya.
Ini logika sederhana: kita tidak bisa terus-menerus menyiram api tanpa memikirkan dari mana asapnya datang.
Bank Indonesia sebenarnya sudah menggerakkan banyak instrumen. Triple intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward, dan Surat Berharga Negara berjalan aktif.
| Opini - Anima Mundi di Tanah Flobamora: Menghidupkan Kesadaran Ekologis Masyarakat NTT |
|
|---|
| Opini - Krisis Ekologi sebagai Kehilangan Kesadaran akan Wahyu Allah |
|
|---|
| Opini: Buzzer dan Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Opini - Suara Emansipasi: Rintihan Buruh Perempuan NTT dalam Terang Teologi Feminis |
|
|---|
| Opini - Kenali Sifilis: Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ronald-PC-Fanggidae-01.jpg)