Opini
Opini: Aku Kolektif
Menulis catatan harian berarti berusaha kembali ke bagian terdalam diri, menggemakan perintah Kristus sendiri, “Duc in altum!”
Setiap angkatan tentu saja memiliki jiwa zaman tersendiri. Refleksi-refleksi dalam Aku Lalian merekam bagaimana para remaja di Seminari Lalian pada tahun 2026 ini memandang diri mereka, lingkungan mereka, bahkan proses formasi mereka.
Sebagai bagian dari sejarah sebuah angkatan, buku refleksi ini memberikan nyawa pada historiografi.
Buku ini, betapapun sederhana dan terbatas, menangkap sisi manusiawi dari pendidikan seminari yang tidak bisa ditangkap oleh tabel data.
Berbagai kesaksian dalam buku ini menggemakan suara-suara dari bawah, dari lorong-lorong asrama dan bangku-bangku kapela, sebagai kesaksian autentik para pelaku sejarah.
Kemampuan untuk menuliskan pengalaman adalah kemampuan untuk menguasai dan membingkai realitas.
Dengan menulis, dalam perspektif Freirean, para siswa tidak lagi hanya menjadi objek dari sistem pendidikan, tetapi subjek yang aktif memaknai hidup mereka sendiri. Ini adalah bekal yang sangat berharga bagi masa depan mereka.
Tentu saja, buku refleksi siswa Seminari Lalian ini adalah sebuah kado perpisahan yang indah, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi dunia literasi di NTT.
Mencatat pengalaman adalah cara kita melawan lupa, mengawetkan kisah-kisah kita di masa lalu sebagai hikmah bagi masa depan. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-F-Lawi-penyair.jpg)