Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Opini: Aku Kolektif

Menulis catatan harian berarti berusaha kembali ke bagian terdalam diri, menggemakan perintah Kristus sendiri, “Duc in altum!”

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIO F. LAWI
Mario F. Lawi. 

“Mencatat pengalaman merupakan salah satu kekhasan anak-anak seminari. Ketika pertama kali masuk Seminari Oepoi dulu, materi pembinaan rohani pertama kami yang diajarkan oleh Pater Willem Laga Udjan, S.V.D. bahkan diambil dari Catatan Harian Anne Frank. 

Kami diajarkan bahwa menuliskan pengalaman adalah kebiasaan yang berharga, yang membukakan banyak pintu ke berbagai jenis tulisan lain. Puisi-puisi pertama saya bahkan lahir di buku catatan harian. 

Esai-esai pendek tentang pengalaman keseharian berharga para seminaris dalam buku ini akan senantiasa relevan, tidak hanya bagi parar penulisnya sebagai bagian dari sejarah hidup mereka dan sejarah satu angkatan dari salah satu lembaga pendidikan calon imam di Nusa Tenggara Timur, tetapi juga bagi para pembaca, karena juga menggemakan hal-hal yang dialami oleh pembaca dalam situasi dan konteks yang berbeda: spontanitas, proses belajar, dan harapan.”

Salah satu kesamaan Anne Frank dengan para seminaris yang diminta untuk menulis catatan harian: catatan harian kedua pihak tersebut sama-sama dikerjakan dari kesunyian. 

Anne menulis catatan hariannya dari tempat persembunyian. Catatan harian para seminaris ditulis dari dalam seminari, yang ketat dengan aturan dan jadwal, serta diapit suasana silentium. 

Menulis catatan harian berarti berusaha kembali ke bagian terdalam diri, menggemakan perintah Kristus sendiri, “Duc in altum!”

Menulis catatan harian, dalam konteks ini, menjadi cara untuk bertahan hidup secara intelektual dan emosional. 

Bahkan, bertahun-tahun kemudian, menulis catatan harian seperti mendirikan rumah, tempat para seminaris dapat senantiasa pulang menjenguk proses bertumbuh mereka, mengenang rekan-rekan seperjuangan, bahkan menemukan catatan tentang para penjasa yang telah mendahului mereka. 

Seperti Anne Frank yang menemukan kemerdekaan di balik goresan pena, para siswa di Lalian menemukan bahwa dengan menuliskan pengalaman, mereka sedang membuka banyak pintu ke berbagai jenis tulisan lain. 

Pengalaman keseharian yang tampak banal—seperti tugas piket, kelelahan saat studi malam, kesempatan berorganisasi, berkumpul bersama teman-teman sedaerah, atau kegembiraan saat olahraga sore—adalah bahan mentah yang paling mudah diolah, karena begitu dekat dengan diri para seminaris.

Buku refleksi yang disusun oleh para siswa Lalian ini terdiri dari esai-esai pendek yang menangkap momen-momen berharga. 

Dengan kata lain, esai-esai dalam buku ini merupakan upaya para seminaris untuk memberikan makna pada waktu yang telah berlalu, termasuk pada pergulatan antara panggilan dan keraguan, antara idealisme selibat dan harapan orang tua, antara ketaatan dan keinginan untuk bebas. 

Pergulatan-pergulatan tersebut, jika tidak dicatat, akan menguap begitu saja ditelan waktu.

Dengan membukukan refleksi ini sebelum tamat, para siswa Lalian tidak saja mencatat sejarah hidup mereka dan angkatan mereka, tetapi telah ambil bagian dalam sejarah seminari, alma mater yang mengasuh mereka dengan ilmu dan karakter, dengan cinta dan aturan, dengan hukum dan pelajaran. Bagi para penulis, buku ini akan menjadi cermin di masa depan. 

Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, saat mereka mungkin sudah menjadi imam yang melayani di pelosok NTT atau menjadi kaum awam yang berkarya di berbagai bidang, mereka dapat kembali ke buku ini untuk melihat siapa mereka saat masih dibentuk di Lalian. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved