Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Opini: Aku Kolektif

Menulis catatan harian berarti berusaha kembali ke bagian terdalam diri, menggemakan perintah Kristus sendiri, “Duc in altum!”

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIO F. LAWI
Mario F. Lawi. 

Oleh: Mario F. Lawi
Nomine Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2026 Kategori Esai/Kritik Sastra, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Judul Aku Lalian: Nostalgia Tujuh Dua (Dusun Flobamora, Mei 2026, editor Rm. Arnoldus Lema, Pr.) mengingatkan saya pada Noli Me Tangere, karya José Rizal, novelis besar dan Bapak Bangsa Filipina. 

Aku Lalian adalah antologi refleksi angkatan 72 Seminari Menengah St. Maria Immaculata, Lalian, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur,  tetapi menggunakan kata “Aku”, pronomina orang pertama tunggal, sebagai judul. 

“Aku” dalam judul Aku Lalian adalah sebuah “aku” kolektif, dari sebuah angkatan yang pernah bersama-sama selama empat tahun dalam sebuah lembaga pendidikan calon imam. 

Baca juga: Opini: Opini WTP dan Ilusi Akuntabilitas Publik

Dalam semangat yang sama, “me” dalam Noli me tangere (jangan sentuh aku), adalah juga pernyataan kolektif, dari pihak dijajah terhadap pihak penjajah. 

Bandingkan juga dengan “Aku”-nya Chairil, sebagai “aku” patriotik, yang menggugah perjuangan segenap anak bangsa melawan pendudukan Jepang.

Refleksi, atau esai reflektif, adalah bentuk paling mudah ditemukan sebagai tulisan para seminaris, atau orang-orang yang mengenyam pendidikan di biara. 

Anak-anak seminari biasanya dianjurkan untuk mencatat pengalaman harian mereka. 

Jika tidak, ada sesi refleksi harian, saat mereka mesti merenungkan kembali pengalaman harian mereka berdasarkan bacaan-bacaan harian dari Alkitab. 

Catatan harian sejumlah santo-santa pun mengambil bentuk esai reflektif semacam ini. 

Dalam antologi Aku Lalian, 61 seminaris mencatat pengalaman paling menarik dalam hidup mereka, pada hari-hari terakhir keberadaan mereka di seminari menengah. 

Sebagai pembanding, para seminaris angkatan 39 di Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi menggubah pengalaman berasrama mereka ke dalam bentuk cerita. 

Antologi cerita mereka, Bersama Santo Rafael di Ladang Tuhan (Dusun Flobamora, 2025, editor: Mario F. Lawi & Yarid K. Munah), menunjukkan momen-momen transformasi para tokoh cerita, yang bisa jadi diangkat dari pengalaman-pengalaman harian para seminaris. 

Kontekstualisasi kisah dalam Bersama Santo Rafael di Ladang Tuhan dengan kenyataan di Nusa Tenggara Timur jugalah yang menjadi salah satu alasan antologi tersebut diakuisisi oleh KITLV-Jakarta, bersama 36 judul buku terbitan Dusun Flobamora lainnya.

Karena itulah, ketika diminta untuk memberikan komentar sampul terhadap buku Aku Lalian, saya menulis: 

“Mencatat pengalaman merupakan salah satu kekhasan anak-anak seminari. Ketika pertama kali masuk Seminari Oepoi dulu, materi pembinaan rohani pertama kami yang diajarkan oleh Pater Willem Laga Udjan, S.V.D. bahkan diambil dari Catatan Harian Anne Frank. 

Kami diajarkan bahwa menuliskan pengalaman adalah kebiasaan yang berharga, yang membukakan banyak pintu ke berbagai jenis tulisan lain. Puisi-puisi pertama saya bahkan lahir di buku catatan harian. 

Esai-esai pendek tentang pengalaman keseharian berharga para seminaris dalam buku ini akan senantiasa relevan, tidak hanya bagi parar penulisnya sebagai bagian dari sejarah hidup mereka dan sejarah satu angkatan dari salah satu lembaga pendidikan calon imam di Nusa Tenggara Timur, tetapi juga bagi para pembaca, karena juga menggemakan hal-hal yang dialami oleh pembaca dalam situasi dan konteks yang berbeda: spontanitas, proses belajar, dan harapan.”

Salah satu kesamaan Anne Frank dengan para seminaris yang diminta untuk menulis catatan harian: catatan harian kedua pihak tersebut sama-sama dikerjakan dari kesunyian. 

Anne menulis catatan hariannya dari tempat persembunyian. Catatan harian para seminaris ditulis dari dalam seminari, yang ketat dengan aturan dan jadwal, serta diapit suasana silentium. 

Menulis catatan harian berarti berusaha kembali ke bagian terdalam diri, menggemakan perintah Kristus sendiri, “Duc in altum!”

Menulis catatan harian, dalam konteks ini, menjadi cara untuk bertahan hidup secara intelektual dan emosional. 

Bahkan, bertahun-tahun kemudian, menulis catatan harian seperti mendirikan rumah, tempat para seminaris dapat senantiasa pulang menjenguk proses bertumbuh mereka, mengenang rekan-rekan seperjuangan, bahkan menemukan catatan tentang para penjasa yang telah mendahului mereka. 

Seperti Anne Frank yang menemukan kemerdekaan di balik goresan pena, para siswa di Lalian menemukan bahwa dengan menuliskan pengalaman, mereka sedang membuka banyak pintu ke berbagai jenis tulisan lain. 

Pengalaman keseharian yang tampak banal—seperti tugas piket, kelelahan saat studi malam, kesempatan berorganisasi, berkumpul bersama teman-teman sedaerah, atau kegembiraan saat olahraga sore—adalah bahan mentah yang paling mudah diolah, karena begitu dekat dengan diri para seminaris.

Buku refleksi yang disusun oleh para siswa Lalian ini terdiri dari esai-esai pendek yang menangkap momen-momen berharga. 

Dengan kata lain, esai-esai dalam buku ini merupakan upaya para seminaris untuk memberikan makna pada waktu yang telah berlalu, termasuk pada pergulatan antara panggilan dan keraguan, antara idealisme selibat dan harapan orang tua, antara ketaatan dan keinginan untuk bebas. 

Pergulatan-pergulatan tersebut, jika tidak dicatat, akan menguap begitu saja ditelan waktu.

Dengan membukukan refleksi ini sebelum tamat, para siswa Lalian tidak saja mencatat sejarah hidup mereka dan angkatan mereka, tetapi telah ambil bagian dalam sejarah seminari, alma mater yang mengasuh mereka dengan ilmu dan karakter, dengan cinta dan aturan, dengan hukum dan pelajaran. Bagi para penulis, buku ini akan menjadi cermin di masa depan. 

Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, saat mereka mungkin sudah menjadi imam yang melayani di pelosok NTT atau menjadi kaum awam yang berkarya di berbagai bidang, mereka dapat kembali ke buku ini untuk melihat siapa mereka saat masih dibentuk di Lalian. 

Setiap angkatan tentu saja memiliki jiwa zaman tersendiri. Refleksi-refleksi dalam Aku Lalian merekam bagaimana para remaja di Seminari Lalian pada tahun 2026 ini memandang diri mereka, lingkungan mereka, bahkan proses formasi mereka. 

Sebagai bagian dari sejarah sebuah angkatan, buku refleksi ini memberikan nyawa pada historiografi. 

Buku ini, betapapun sederhana dan terbatas, menangkap sisi manusiawi dari pendidikan seminari yang tidak bisa ditangkap oleh tabel data. 

Berbagai kesaksian dalam buku ini menggemakan suara-suara dari bawah, dari lorong-lorong asrama dan bangku-bangku kapela, sebagai kesaksian autentik para pelaku sejarah.

Kemampuan untuk menuliskan pengalaman adalah kemampuan untuk menguasai dan membingkai realitas. 

Dengan menulis, dalam perspektif Freirean, para siswa tidak lagi hanya menjadi objek dari sistem pendidikan, tetapi subjek yang aktif memaknai hidup mereka sendiri. Ini adalah bekal yang sangat berharga bagi masa depan mereka. 

Tentu saja, buku refleksi siswa Seminari Lalian ini adalah sebuah kado perpisahan yang indah, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi dunia literasi di NTT

Mencatat pengalaman adalah cara kita melawan lupa, mengawetkan kisah-kisah kita di masa lalu sebagai hikmah bagi masa depan. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved