Opini
Opini: Mei, Ibu dan Luka yang Ditenun Menjadi Harapan
Dalam terang ini, Bulan Maria menjadi ruang di mana luka tidak disangkal, tetapi dirangkul dan perlahan diubah menjadi harapan.
Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kebijakan yang tepat, tetapi juga hati yang peduli.
Tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga keberanian moral untuk tetap melihat sesama sebagai sesama. Dan di tengah semua itu, mungkin kita perlu belajar dari cara seorang ibu bekerja: diam-diam, tekun, dan setia.
Mei, pada akhirnya, bukan sekadar tentang Maria. Ia adalah tentang kita tentang bagaimana kita memilih untuk hidup di tengah dunia yang tidak sempurna.
Apakah kita akan membiarkan luka menjadi sumber keputusasaan, atau, seperti seorang ibu, kita memilih menenunnya menjadi harapan?
Di sanalah doa menemukan maknanya yang paling dalam bukan hanya diucapkan, tetapi dihidupi. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Menagih Tanggung Jawab Bersama untuk NTT di Hari Pendidikan Nasional |
|
|---|
| Opini: Hari Pendidikan atau Hari Keprihatinan? |
|
|---|
| Opini - Keadilan Bagi Kaum Buruh Perspektif Ensiklik Rerum Novarum |
|
|---|
| Opini - Hardiknas 2026: Menguatkan Partisipasi Semesta dari Akar Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Memutus Rantai Buruh Kasar- Pendidikan NTT Harus Naik Kelas! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Elan-Asna.jpg)