Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opini: Mei, Ibu dan Luka yang Ditenun Menjadi Harapan

Dalam terang ini, Bulan Maria menjadi ruang di mana luka tidak disangkal, tetapi dirangkul dan perlahan diubah menjadi harapan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ELAN ASNA
Elan Asna 

Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tekanan harga kebutuhan pokok masih dirasakan rumah tangga sepanjang 2025 – awal 2026, terutama pada komoditas pangan.

Konflik global tidak berhenti di peta dunia; ia merembes ke dapur-dapur kecil, ke kecemasan orang tua, ke kegelisahan generasi muda tentang masa depan.

Dalam konteks ini, doa bukan pelarian ia adalah cara untuk menata ulang makna.

Doa: Antara Keheningan dan Tindakan

Doa Rosario, yang menjadi praktik utama selama Bulan Maria, sering disalahpahami sebagai repetisi tanpa makna. 

Padahal, dalam tradisi Gereja, rosario adalah doa kontemplatif cara merenungkan kehidupan melalui ritme yang tenang dan berulang.

Filsuf Hannah Arendt dalam The Human Condition (1958) mengingatkan bahwa krisis modern bukan hanya soal politik, tetapi juga hilangnya kemampuan manusia untuk berpikir secara mendalam. 

Dunia yang terlalu cepat sering kali membuat manusia kehilangan ruang untuk merenung.

Dalam konteks ini, doa menjadi bentuk perlawanan yang sunyi. Ia memperlambat, mengendapkan, dan memulihkan kedalaman.

Namun, doa yang sejati tidak boleh berhenti pada keheningan. Ia harus berbuah 
dalam tindakan.

Paus Fransiskus  dalam ensiklik Fratelli Tutti (2020) menegaskan bahwa iman yang otentik selalu mendorong manusia untuk keluar dari diri sendiri dan membangun persaudaraan sosial. 

Iman yang tidak menyentuh realitas sosial berisiko menjadi formalitas tanpa daya.

Di sinilah letak ketegangan yang produktif: antara rosario di tangan dan realitas di depan mata.

NTT: Doa yang Membumi

Di Nusa Tenggara Timur ( NTT), Bulan Maria bukan sekadar tradisi liturgis tetapi praktik hidup. 

Doa rosario dilaksanakan dari rumah ke rumah, di kapela sederhana, bahkan di bawah langit terbuka yang keras oleh panas dan keterbatasan.

Di sini, iman tidak melayang di atas realitas, tetapi berpijak pada kehidupan yang konkret. Ia berjalan di jalan berbatu.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved