Opini
Opini: Mei, Ibu dan Luka yang Ditenun Menjadi Harapan
Dalam terang ini, Bulan Maria menjadi ruang di mana luka tidak disangkal, tetapi dirangkul dan perlahan diubah menjadi harapan.
Oleh: Elan Asna
Apotekers, pegiat media sosial
POS-KUPANG.COM - Mei selalu datang dengan cara yang lembut seolah ia tidak ingin mengganggu dunia yang sudah terlalu bising. Bulan Mei hadir seperti seorang ibu yang tidak banyak bicara, tetapi mengandung makna dalam.
Di dalamnya, doa-doa dilantunkan perlahan, rosario dirangkai dengan sabar, dan manusia diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk yang tak pernah benar-benar selesai.
Dalam tradisi Gereja Katolik, Mei bukan sekadar bulan biasa. Mei adalah Bulan Maria, ruang spiritual di mana manusia belajar kembali tentang kesetiaan, kerendahan hati, dan harapan.
Baca juga: Umat Paroki Kolhua Kupang Khusyuk Mengikuti Misa Pembukaan Bulan Maria
Praktik devosi ini telah mengakar sejak berabad-abad, berkembang kuat dalam tradisi Gereja sejak abad ke-18 melalui spiritualitas populer umat, dan terus hidup hingga hari ini sebagai bentuk iman yang sederhana namun mendalam.
Namun, pertanyaan yang patut diajukan adalah: di tengah dunia yang retak oleh konflik, ketimpangan, dan kecemasan global, apakah doa-doa itu masih memiliki daya?
Ataukah ia sekadar gema sunyi yang indah, tetapi tak menjangkau realitas?
Di sinilah Mei menjadi penting bukan hanya sebagai ritus, tetapi sebagai refleksi.
Ibu sebagai Metafora Dunia yang Luka
Dalam filsafat etika, sosok ibu kerap melampaui makna biologis. Ia menjadi simbol tanggung jawab.
Filsuf Emmanuel Levinas, dalam Totality and Infinity (1961), menegaskan bahwa relasi dengan “yang lain” selalu melahirkan tanggung jawab moral.
Dalam terang ini, Maria dapat dibaca bukan sekadar figur religius, tetapi wajah dari kepedulian itu sendiri: menerima tanpa syarat, merawat tanpa pamrih, dan tetap setia bahkan dalam penderitaan.
Kitab suci menggambarkan Maria sebagai pribadi yang “menyimpan segala perkara dalam hatinya” (Luk 2:19).
Ini bukan sikap pasif, melainkan refleksi mendalam sebuah cara memahami dunia tanpa tergesa menghakimi.
Dan dunia hari ini, tampaknya, sedang sangat membutuhkan cara itu. Kita hidup dalam zaman yang ditandai oleh konflik global berkepanjangan, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian ekonomi.
Laporan World Bank (Januari 2025) mencatat bahwa perlambatan ekonomi global berdampak langsung pada negara berkembang melalui inflasi pangan dan energi.
Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tekanan harga kebutuhan pokok masih dirasakan rumah tangga sepanjang 2025 – awal 2026, terutama pada komoditas pangan.
Konflik global tidak berhenti di peta dunia; ia merembes ke dapur-dapur kecil, ke kecemasan orang tua, ke kegelisahan generasi muda tentang masa depan.
Dalam konteks ini, doa bukan pelarian ia adalah cara untuk menata ulang makna.
Doa: Antara Keheningan dan Tindakan
Doa Rosario, yang menjadi praktik utama selama Bulan Maria, sering disalahpahami sebagai repetisi tanpa makna.
Padahal, dalam tradisi Gereja, rosario adalah doa kontemplatif cara merenungkan kehidupan melalui ritme yang tenang dan berulang.
Filsuf Hannah Arendt dalam The Human Condition (1958) mengingatkan bahwa krisis modern bukan hanya soal politik, tetapi juga hilangnya kemampuan manusia untuk berpikir secara mendalam.
Dunia yang terlalu cepat sering kali membuat manusia kehilangan ruang untuk merenung.
Dalam konteks ini, doa menjadi bentuk perlawanan yang sunyi. Ia memperlambat, mengendapkan, dan memulihkan kedalaman.
Namun, doa yang sejati tidak boleh berhenti pada keheningan. Ia harus berbuah
dalam tindakan.
Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti (2020) menegaskan bahwa iman yang otentik selalu mendorong manusia untuk keluar dari diri sendiri dan membangun persaudaraan sosial.
Iman yang tidak menyentuh realitas sosial berisiko menjadi formalitas tanpa daya.
Di sinilah letak ketegangan yang produktif: antara rosario di tangan dan realitas di depan mata.
NTT: Doa yang Membumi
Di Nusa Tenggara Timur ( NTT), Bulan Maria bukan sekadar tradisi liturgis tetapi praktik hidup.
Doa rosario dilaksanakan dari rumah ke rumah, di kapela sederhana, bahkan di bawah langit terbuka yang keras oleh panas dan keterbatasan.
Di sini, iman tidak melayang di atas realitas, tetapi berpijak pada kehidupan yang konkret. Ia berjalan di jalan berbatu.
Namun realitas sosial juga tidak ringan. Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di NTT masih berada di atas rata-rata nasional.
Akses terhadap air bersih, pendidikan, dan lapangan kerja masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Dalam situasi seperti ini, doa bukan sekadar ritual ia adalah daya tahan. Ia menjaga manusia agar tidak kehilangan harapan ketika realitas terasa sempit.
Namun refleksi kritis tetap perlu diajukan: apakah doa-doa itu sudah diterjemahkan menjadi tindakan sosial?
Apakah Bulan Maria juga mendorong solidaritas konkret dalam kepedulian terhadap sesama, penguatan komunitas, dan keberanian membangun kebaikan bersama?
Pertanyaan ini bukan untuk menggugat iman, melainkan untuk memperdalamnya.
Menenun Luka Menjadi Harapan
“Menenun” berarti tidak menghapus luka, tetapi mengolahnya menjadi sesuatu yang baru.
Psikiater Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning (1946) menulis bahwa manusia tetap dapat menemukan makna bahkan dalam penderitaan terdalam.
Bukan situasi yang menentukan sepenuhnya, melainkan cara manusia memaknai situasi itu.
Dalam terang ini, Bulan Maria menjadi ruang di mana luka tidak disangkal, tetapi dirangkul dan perlahan diubah menjadi harapan.
Maria sendiri adalah simbol dari proses itu. Ia mengalami ketidakpastian, penolakan, bahkan penderitaan, tetapi tetap setia. Ia tidak melarikan diri dari realitas; ia menjalaninya dengan iman.
Mungkin di situlah letak relevansinya hari ini: bahwa harapan bukan lahir dari dunia yang sempurna, tetapi dari kesetiaan dalam dunia yang retak.
Dari Mei ke Masa Depan
Mei tidak akan tinggal selamanya. Ia akan berlalu, seperti bulan-bulan lainnya. Tetapi yang terpenting bukanlah lamanya ia hadir, melainkan apa yang ia tinggalkan.
Jika Bulan Maria hanya berhenti pada ritual, maka ia akan menjadi kenangan yang indah tetapi kosong.
Namun jika ia menjadi titik tolak untuk memperdalam kepedulian, memperluas solidaritas, dan memperkuat harapan maka ia akan menjadi kekuatan yang nyata dalam kehidupan sosial.
Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kebijakan yang tepat, tetapi juga hati yang peduli.
Tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga keberanian moral untuk tetap melihat sesama sebagai sesama. Dan di tengah semua itu, mungkin kita perlu belajar dari cara seorang ibu bekerja: diam-diam, tekun, dan setia.
Mei, pada akhirnya, bukan sekadar tentang Maria. Ia adalah tentang kita tentang bagaimana kita memilih untuk hidup di tengah dunia yang tidak sempurna.
Apakah kita akan membiarkan luka menjadi sumber keputusasaan, atau, seperti seorang ibu, kita memilih menenunnya menjadi harapan?
Di sanalah doa menemukan maknanya yang paling dalam bukan hanya diucapkan, tetapi dihidupi. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Menagih Tanggung Jawab Bersama untuk NTT di Hari Pendidikan Nasional |
|
|---|
| Opini: Hari Pendidikan atau Hari Keprihatinan? |
|
|---|
| Opini - Keadilan Bagi Kaum Buruh Perspektif Ensiklik Rerum Novarum |
|
|---|
| Opini - Hardiknas 2026: Menguatkan Partisipasi Semesta dari Akar Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Memutus Rantai Buruh Kasar- Pendidikan NTT Harus Naik Kelas! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Elan-Asna.jpg)