Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Opini: Membaca Pesta Babi dari Pesan Paus Leo XIV

Film Pesta Babi adalah fakta kelam yang disuguhkan kepada kita sebagai sesama anak bangsa agar segera insaf

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ARMANDO LABETUBUN
Armando Labetubun, SVD 

Oleh: Armando Labetubun, SVD
Guru SMAK Sto. Arnoldus Janssen Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Papua dengan segala keindahan alamnya dan seabrek konflik yang tiada habisnya, kerap tampil dalam amatan publik melalui dua paparan ekstrem. 

Di antara kedua poros ini, film Pesta Babi mengambil alternatif ketiga: merekam realitas hidup masyarakat adat yang kental dengan alam sekaligus kelam. 

Namun, sebagaimana satu karya seni yang berani mengabadikan realitas pinggiran, film ini tidak luput dari kontroversi. 

Sejumlah pihak menuding film ini menjajakan rasa sakit, kemelut dan penderitaan manusia Papua dengan sorotan kamera, selain juga provokatif dengan narasi tidak berimbang. 

Baca juga: Opini: Pesta Babi dan Sikap Kristen di Tengah Krisis Sosial Politik

Namun, benarkah demikian? Ataukah justru sebaliknya kamera Pesta Babi sedang menjalankan misi khusus sebagai saksi yang blak-blakan menyuarakan martabat kemanusiaan yang terlampau sering diabaikan?

Untuk mengurai kerumitan ini, pesan teologis Paus Leo XVI pada hari peringatan Komunikasi Sedunia, “Menjaga Suara dan Wajah Manusia” di Hari Minggu Paskah VII bisa menjadi pisau bedah yang relevan bagi kita atas film Pesta Babi yang cukup meresahkan kalangan tertentu tersebut. 

Seruan Paus Leo XVI menjadi awasan bagi cara pandang dunia modern yang menempatkan manusia sebagai objek semata dan direduksi menjadi sekadar angk, barang atau tontonan di era digital.

Pro dan Kontra

Kritik atas Pesta Babi berangkat dari kekhawatiran, bahwa kemelut hidup yang melilit masyarakat Papua dijadikan komoditas sekaligus alat propaganda. 

Penderitaan mereka dibesar-besarkan, ditelanjangi dan disorot kamera. Pihak yang berargumen demikian, menampik bahwa menyajikan realitas perjungan orang Papua atas alamnya serta air mata masyarakat adat di depan kamera justru menguatkan anggapan bahwa orang Papua adalah objek lemah dan butuh diselamatkan. 

Dari sisi kajian media, kecemasan macam ini valid. Kamera punya otoritas memformat setiap sudut pandang. Jika salah di-setting, kamera membuat pelakon tampak lemah dan tertindas, lalu terjebak dalam posisi inferior. 

Namun, melabeli film ini sepenuhnya eksploitatif adalah kesimpulan yang terlalu dini. 

Jika disimak secara mendalam, perjuangan mengangkat nilai kemanusiaan, pelestarian lingkungan, keadilan sosial, dan penghormatan atas kedaulatan masyarakat dalam film ini justru terletak pada upaya menyingkapkan tabir realitas hidup masyarakat adat apa adanya dari dalam masyarakat itu sendiri.

Tradisi pesta babi bukan sekadar ritual kuliner, tetapi simbol kebersamaan, kehormatan, hidup komunal, identitas budaya. 

Lewat pesta babi, rekonsiliasi terwujud, hubungan sosial yang rusak serta martabat masyarakat adat Papua dipulihkan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved