Opini
Opini: Orang Desa Tidak Pakai Dolar?
Ketika rupiah melemah, yang harus segera dijaga adalah meja makan rakyat dan keberlanjutan kerja produktif desa.
Retorika yang Menenangkan, Realitas yang Menekan
Membaca: Mikha 6:8.
Oleh: Yorim Yosavat Kause
Pendeta Gereja Masehi Injili di Timor ( GMIT) di Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan, NTT.
“Ketika penguasa berbicara seolah gejolak dolar hanya urusan layar pasar dan elite kota, rakyat kecil justru sedang menghitung beras, minyak, pupuk, dan ongkos hidup dengan napas yang makin sesak”.
POS-KUPANG.COM - Pernyataan Presiden Prabowo, “Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” terdengar sederhana bahkan menenangkan.
Namun dalam situasi ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, kalimat itu justru berbahaya bila diterima tanpa kritik, karena warga desa memang tidak bertransaksi dengan dolar secara langsung, tetapi mereka menanggung akibatnya lewat kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya produksi, dan menurunnya daya beli.
Data terbaru menunjukkan bahwa kurs referensi JISDOR Bank Indonesia pada 20 Mei 2026 berada di Rp17.685 per dolar AS, sedangkan Kurs Transaksi BI per pembaruan terakhir 20 Mei 2026 menempatkan kurs jual USD di Rp17.807,60 dan kurs beli di Rp17.630,40.
Baca juga: Opini: Dolar Menguat dan Rapuhnya Ketahanan Indonesia
Pada saat yang sama, laporan pasar pada Kamis, 21 Mei 2026, menunjukkan rupiah masih berada dalam tekanan, dengan pembukaan di sekitar Rp17.652 per dolar AS dan proyeksi pergerakan di kisaran Rp17.600–Rp17.750.
Ini berarti persoalan nilai tukar bukan sekadar angka di layar bursa, melainkan tekanan nyata yang cepat atau lambat menjalar ke dapur rakyat kecil.
Secara teknis, benar bahwa sebagian besar warga desa tidak memegang dolar AS dalam transaksi sehari-hari. Mereka membeli beras, minyak goreng, pupuk, solar, dan kebutuhan rumah tangga dengan rupiah.
Tetapi logika itu berhenti pada permukaan, karena harga banyak barang yang dikonsumsi masyarakat desa sangat dipengaruhi oleh komponen impor, biaya energi, biaya distribusi, dan sentimen pasar yang semuanya terkait dengan pergerakan dolar.
Artinya, rakyat kecil tidak perlu memiliki dolar untuk terkena dampak dolar. Ketika rupiah melemah, barang impor menjadi lebih mahal, biaya logistik meningkat, harga bahan baku naik, dan pada akhirnya pedagang eceran, petani, nelayan, buruh, dan keluarga miskin di desa harus membayar lebih mahal untuk hidup yang sama.
Dalam titik ini, pernyataan “orang desa tidak pakai dolar” berubah dari retorika populis menjadi penyederhanaan yang tidak bijaksana.
Dampaknya bagi Warga Miskin
Kelompok miskin selalu menjadi pihak yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah karena penghasilan mereka tidak naik secepat harga-harga.
Rumah tangga miskin di desa mengalokasikan porsi besar pendapatannya untuk pangan, transportasi, energi, dan biaya kerja produktif seperti pupuk atau pakan ternak, sehingga sedikit saja gejolak kurs dapat langsung menggerus daya beli mereka.
Yorim Yosavat Kause
Opini Pos Kupang
Dolar Amerika Serikat
dolar amerika
Berita Kurs Rupiah
kurs rupiah
Pendeta GMIT
Gereja Masehi Injili di Timor
Meaningful
| Opini: Membaca Pesta Babi dari Pesan Paus Leo XIV |
|
|---|
| Opini: Magnifica Humanitas- Menjaga Manusia di Ambang Algoritma |
|
|---|
| Opini: Menghantar Makan, Menanam Perilaku: Menelisik Peran Kader Pendamping Keluarga |
|
|---|
| Opini: Ketika Inflasi Tak Cukup Seksi untuk Disebut Politik |
|
|---|
| Opini: Membangun Kesadaran Ekologis Pemilih Pemula di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yorim-Yosavat-Kause.jpg)