Opini
Opini: Magnifica Humanitas- Menjaga Manusia di Ambang Algoritma
Tanpa visi itu, teknologi mudah sekali jatuh ke dalam logika dominasi, baik dominasi ekonomi, politik maupun budaya.
Oleh: Didimus Wungo
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Di tengah gentingnya arus kecerdasan buatan, manusia tentu berada dalam situasi yang sedang tidak baik-baik saja.
Ia menciptakan sistem yang mampu belajar, menghitung, dan mengambil keputusan dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya.
Namun sayangnya, pada saat yang sama ia mulai berhadapan dengan sebuah pertanyaan yang lebih mendalam dari sekadar kemajuan teknis, tentang bagaimana ia memahami dirinya sendiri di dalam dunia yang ia bentuk.
Dalam situasi inilah Magnifica Humanitas, ensiklik pertama Paus Leo XIV yang akan dirilis pada 25 Mei 2026, memperoleh maknanya.
Ensiklik dari Paus Leo XIV tidak lahir dari kegelisahan yang dangkal terhadap teknologi, melainkan dari kesadaran bahwa setiap perkembangan yang datang selalu menyentuh inti kemanusiaan.
Baca juga: Opini: Ketika Inflasi Tak Cukup Seksi untuk Disebut Politik
Ensiklik ini juga hadir bukan untuk menolak perkembangan zaman, tetapi ia hadir untuk menanyakan kembali dasar dari setiap perkembangan itu: siapa manusia, dan ke mana ia akan diarahkan?
Tanggal penandatanganannya yang bertepatan dengan hari peringatan 135 tahun Ensiklik Rerum Novarum tidak berhenti pada sekedar simbol historis. Itu menunjukkan bahwa Gereja sebenarnya memahami momen ini sebagai sebuah titik untuk kembali.
Dahulu, persoalan utama berkaitan dengan perubahan pada struktur kerja akibat revolusi industri. Kini, persoalan tersebut bergerak ke arah yang lebih dalam tentang bagaimana manusia memahami dirinya sendiri.
Dalam ruang digital yang ditentukan oleh data dan algoritma, manusia berhadapan dengan kemungkinan untuk direduksi menjadi sekadar pola, kecenderungan, atau variabel yang dapat dihitung.
Di sinilah letak ketegangan yang ingin disentuh oleh ensiklik Magnifica Humanitas. Kecerdasan buatan menawarkan sensasi, percepatan dan kapasitas analisis yang melampaui kemampuan berpikir manusia.
Namun pada saat yang bersamaan, ia menjadi risiko besar yang tidak selalu tampak di permukaan.
Ketika keputusan diambil oleh sistem yang tidak sepenuhnya dapat dipahami, ketika relasi sosial dimediasi oleh platform yang bekerja dengan logika optimasi, manusia secara perlahan akan kehilangan ruang untuk mengalami dirinya sebagai subjek yang bebas.
Pilihan istilah “perlindungan pribadi manusia di zaman kecerdasan buatan” dalam ensiklik ini menjadi sangat menentukan.
Perlindungan yang dimaksud di sini tidak berarti sikap defensif yang dengan keras menolak teknologi, melainkan sebuah usaha aktif untuk menjaga dimensi terdalam dari manusia itu sendiri yang sejak mula dinobatkan sebagai makhluk paling unik dari ciptaan-ciptaan lain.
| Opini: Menghantar Makan, Menanam Perilaku: Menelisik Peran Kader Pendamping Keluarga |
|
|---|
| Opini: Ketika Inflasi Tak Cukup Seksi untuk Disebut Politik |
|
|---|
| Opini: Membangun Kesadaran Ekologis Pemilih Pemula di Era Digital |
|
|---|
| Opini: Ketika Keberanian Bicara- Pelajaran Etika dari Sebuah Protes di Panggung LCC |
|
|---|
| Opini: Perang Sebagai Jalan Menuju Kebenaran? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Didimus-Wungo.jpg)