Opini
Opini: Saat Musim Kemarau Mengetuk Pintu NTT
Memasuki bulan Mei, wilayah NTT mulai didominasi oleh pergerakan Angin Monsun Timur (Australian Monsoon).
Aliran massa udara ini bergerak dari Belahan Bumi Selatan (BBS) yang saat ini bertekanan tinggi dan sebagian besar daratannya adalah gurun pasir.
Saat angin ini menyeberangi Laut Timor menuju NTT, ia membawa sifat asalnya yang sangat kering dan minim uap air (low humidity).
Bayangkan Benua Australia di sebelah selatan sana sebagai sebuah tungku perapian raksasa.
Angin Monsun Timur adalah napas dari perapian itu yang ditiupkan ke arah kita.
Hawa kering ini langsung menyapu bersih bibit-bibit awan di atas langit NTT sebelum mereka sempat "matang" menjadi tetesan hujan.
Meski mayoritas wilayah NTT terpanggang matahari, BMKG masih menangkap anomali kecil pada peluang curah hujan lebih dari 20 mm per sepuluh hari, yang ditunjukkan dengan gradasi warna kuning dan oranye (peluang menengah hingga tinggi) di sebagian pesisir barat daya Sumba dan wilayah pegunungan Manggarai di barat Flores.
Ini adalah fenomena yang disebut hujan orografis. Sisa-sisa uap air tipis di udara dipaksa naik oleh topografi pegunungan tinggi di wilayah tersebut.
Saat udara naik, ia mendingin, terkondensasi kemudian jatuh sebagai hujan dalam skala lokal.
Wilayah pegunungan di barat Flores dan Sumba ini ibarat “spon” terakhir yang berhasil memeras sisa-sisa air dari udara.
Meskipun hanya gerimis, ini seperti oase yang tersisa sedikit, tapi cukup membasahi kerongkongan alam yang mulai kehausan.
Secara klimatologi pertanian (agroklimatologi), ketiadaan hujan diiringi oleh peningkatan intensitas radiasi matahari akan memicu lonjakan angka evapotranspirasi.
Ini adalah proses ganda: penguapan air langsung dari permukaan tanah (evaporasi) dan penguapan air dari pori-pori daun tanaman (transpirasi).
Ketika evapotranspirasi jauh lebih tinggi daripada hujan, terjadilah defisit curah hujan.
Menghadapi prediksi penurunan curah hujan ini, apa yang harus kita lakukan di NTT?
Cekaman kekeringan (drought stress) sudah di depan mata. Ini saatnya petani kita mengistirahatkan padi sawah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hamdan-Nurdin.jpg)