Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini: May Day di Tanah Tanpa Pabrik Besar

NTT tidak boleh menjadi tanah yang kaya bahan, tetapi miskin pengolahan. Pekerja NTT tidak boleh terus menjadi tenaga murah

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Oleh:  I Putu Yoga Bumi Pradana
Akademisi Kebijakan Publik FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Setiap 1 Mei, Hari Buruh sering dibayangkan lewat wajah Jawa yaitu pabrik besar, kawasan industri, cerobong asap, ribuan pekerja berseragam, dan barisan massa di jalan raya. 

Namun di Nusa Tenggara Timur ( NTT), wajah buruh berbeda. Ia hadir sebagai buruh bangunan, pekerja hotel, sopir, pekerja toko, nelayan, petani kecil, pekerja migran, tenaga kontrak, pengemudi aplikasi, dan anak muda yang hidup dari kerja serabutan.

Karena itu, Hari Buruh di NTT tidak cukup dibaca sebagai soal upah minimum. UMP memang penting. 

Namun persoalan paling mendasar bukan hanya berapa rupiah buruh dibayar, melainkan mengapa kerja orang NTT belum cukup kuat masuk ke rantai nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Baca juga: Opini: Dimensi Spiritual Ekowisata

Inilah tesisnya, yakni buruh NTT tidak akan naik kelas hanya dengan kenaikan upah, jika daerah ini tidak membangun rantai nilai produktif, memperkuat daya saing tenaga kerja, dan berani menarik investasi pabrik besar yang mengolah kekayaan lokal menjadi nilai tambah di tanah sendiri.

Kerja Banyak, Nilai Bocor

BPS NTT mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2025 sebesar 3,23 persen. Angka ini terlihat rendah, tetapi tidak otomatis berarti sejahtera. 

Di daerah dengan ekonomi informal besar, orang sering tidak punya kemewahan untuk menganggur. Mereka bekerja apa saja, dengan upah berapa saja, dan perlindungan seadanya.

Masalahnya bukan hanya lapangan kerja, melainkan kualitas dan posisi kerja. Pada Februari 2025, hanya 25,58 persen pekerja NTT berada pada kegiatan formal. 

Artinya, mayoritas pekerja berada di sektor informal yang lemah kontrak, lemah jaminan sosial, dan lemah posisi tawar.

Akar masalahnya jelas: NTT terlalu lama menjadi pemasok bahan mentah, tenaga murah, dan pasar konsumsi. Petani menghasilkan komoditas, tetapi sering menjual dalam bentuk primer. 

Nelayan menangkap ikan, tetapi nilai olahan, pengemasan, logistik dingin, dan pemasaran sering dinikmati pihak lain. Peternak memelihara sapi, tetapi industri hilirnya belum kuat. 

Pariwisata tumbuh, tetapi produk lokal belum otomatis masuk ke hotel, restoran, dan paket wisata. 

Tenaga kerja muda tersedia, tetapi belum semuanya memiliki keterampilan teknis yang cocok dengan industri modern.

Di sinilah buruh NTT kalah sebelum bertanding. Bukan karena tidak mau bekerja, tetapi karena struktur ekonomi daerah belum menyediakan tangga produktif. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved