Opini
Opini: May Day di Tanah Tanpa Pabrik Besar
NTT tidak boleh menjadi tanah yang kaya bahan, tetapi miskin pengolahan. Pekerja NTT tidak boleh terus menjadi tenaga murah
Oleh: I Putu Yoga Bumi Pradana
Akademisi Kebijakan Publik FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Setiap 1 Mei, Hari Buruh sering dibayangkan lewat wajah Jawa yaitu pabrik besar, kawasan industri, cerobong asap, ribuan pekerja berseragam, dan barisan massa di jalan raya.
Namun di Nusa Tenggara Timur ( NTT), wajah buruh berbeda. Ia hadir sebagai buruh bangunan, pekerja hotel, sopir, pekerja toko, nelayan, petani kecil, pekerja migran, tenaga kontrak, pengemudi aplikasi, dan anak muda yang hidup dari kerja serabutan.
Karena itu, Hari Buruh di NTT tidak cukup dibaca sebagai soal upah minimum. UMP memang penting.
Namun persoalan paling mendasar bukan hanya berapa rupiah buruh dibayar, melainkan mengapa kerja orang NTT belum cukup kuat masuk ke rantai nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Baca juga: Opini: Dimensi Spiritual Ekowisata
Inilah tesisnya, yakni buruh NTT tidak akan naik kelas hanya dengan kenaikan upah, jika daerah ini tidak membangun rantai nilai produktif, memperkuat daya saing tenaga kerja, dan berani menarik investasi pabrik besar yang mengolah kekayaan lokal menjadi nilai tambah di tanah sendiri.
Kerja Banyak, Nilai Bocor
BPS NTT mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2025 sebesar 3,23 persen. Angka ini terlihat rendah, tetapi tidak otomatis berarti sejahtera.
Di daerah dengan ekonomi informal besar, orang sering tidak punya kemewahan untuk menganggur. Mereka bekerja apa saja, dengan upah berapa saja, dan perlindungan seadanya.
Masalahnya bukan hanya lapangan kerja, melainkan kualitas dan posisi kerja. Pada Februari 2025, hanya 25,58 persen pekerja NTT berada pada kegiatan formal.
Artinya, mayoritas pekerja berada di sektor informal yang lemah kontrak, lemah jaminan sosial, dan lemah posisi tawar.
Akar masalahnya jelas: NTT terlalu lama menjadi pemasok bahan mentah, tenaga murah, dan pasar konsumsi. Petani menghasilkan komoditas, tetapi sering menjual dalam bentuk primer.
Nelayan menangkap ikan, tetapi nilai olahan, pengemasan, logistik dingin, dan pemasaran sering dinikmati pihak lain. Peternak memelihara sapi, tetapi industri hilirnya belum kuat.
Pariwisata tumbuh, tetapi produk lokal belum otomatis masuk ke hotel, restoran, dan paket wisata.
Tenaga kerja muda tersedia, tetapi belum semuanya memiliki keterampilan teknis yang cocok dengan industri modern.
Di sinilah buruh NTT kalah sebelum bertanding. Bukan karena tidak mau bekerja, tetapi karena struktur ekonomi daerah belum menyediakan tangga produktif.
I Putu Yoga Bumi Pradana
May Day
Hari Buruh Sedunia
Hari Buruh Internasional
Opini Pos Kupang
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Dimensi Spiritual Ekowisata |
|
|---|
| Opini: Digitalisasi Pendidikan, Artificial Intelligence dan Cognitive Debt |
|
|---|
| Opini: Paradigma Baru Hukum Pidana untuk Lindungi Insinyur dan Marwah APH dari Rekayasa Kasus |
|
|---|
| Opini: Moke - Antara Warisan Budaya, Ekonomi Rakyat dan Negara yang Gamang |
|
|---|
| Opini: Kebebasan Pers dan Siapa yang Berhak Menamai Kebenaran? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/I-Putu-Yoga-Bumi-Pradana-04.jpg)