Senin, 25 Mei 2026

Opini

Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko?

Negara sering ditimbun fobia,  lebih takut pada cerita daripada kenyataan. Mereka percaya narasi bisa melukai citra.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARSEL ROBOT
Marsel Robot 

Oleh: Marsel Robot
Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - “Veronika! Su nonton film Pesta Babi ko?” Tanya Om Obi sambil masak sopi. 

Veronika, tokoh dalam lagu balada  “Lu Kenal Veronika Ko? Lagu yang lagi viral atau sedang mendunia. Konon, digarap alakadarnya atau  isengan oleh Verry Klau

Ia mungkin menulis lagu itu ditemani kopi hangat kurang gula sambil duduk dekat kios Bugis. Struktur syairnya mirip algoritma percakapan di lorong menuju lapak Pasar Betun Malaka, Nusa Tenggara Timur. 

Nada-nadanya mengesankan cinta salah parkir. Dinyanyikan oleh siapa saja dengan gaya parlente. Tetapi, elekrika viralitas menghipnotis  dunia. 

Baca juga: Opini: Membaca Pesta Babi dari Pesan Paus Leo XIV

Tak kalah viral adalah film Pesta Babi, garapan  Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale. Cuma proses viralitasnya sangat berbeda. 

Kalau Veronika viral karena orang berjoget, mudah diakses, mudah dinyanyikan. Sedangkan,  film Pesta Babi viral karena dilarang menonton. 

Film ini viral karena dilarang viral. Justeru pelarangan itulah yang memproduksi viralitas film itu. 

Aparat (tentara) mendadak menjadi Lembaga Sensor Film ( LSF). Kalau LSF biasanya sibuk suntuk menghitung durasi berapa detik adegan seronok, sedangkan aparat menyesor tingkat ancaman terhadap perasaan pejabat. 

Seolah-olah kamera dokumenter lebih berbahaya daripada kebocoran anggaran anggaran MBG. Rupanya, negara masih memakai logika analog,  jika layar ditutup maka ceritera selesai. 

Padahal, jika layar ditutup paksa, maka ceritera tak akan selesai dan malahan ceritera beranak-pinak.

Dari segi garapan sinematik, Film Pesta Babi sebenarnya tidak terlalu istimewa. Unsur dramatiknya pun tergolong biasa.  

Mungkin, karena latarnya Papua, tanah yang selalu sensitif secara politik, tempat bendera Bintang Kejora berkibar. Atau temanya agak ekstrem melebihi Poco Leok di Manggarai,  sehingga ngara tersinggung dan mendadak diperlakukan seperti korek api  di pompa  bensin. 

Padahal, andaikan diputar biasa dan dibuka ruang diskusi publik, mungkin tidak seheboh sekarang. Larangan aparat malah memviralkan film ini.  Dengan kata lain,  kekuatan film ini justru terletak pada “larangan menonton.”

Baca juga: Opini: Bahasa Simbol Perlawanan

Awalnya hanya segelintir orang yang tahu film itu. Mahasiswa, aktivis menonton dan berdiskusi, komunitas film melakukan bedah karya sambil minum kopi. Lalu,  aparat datang dengan wajah serius membubarkan nonton bareng (nobar). 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved