Opini
Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko?
Negara sering ditimbun fobia, lebih takut pada cerita daripada kenyataan. Mereka percaya narasi bisa melukai citra.
Oleh: Marsel Robot
Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - “Veronika! Su nonton film Pesta Babi ko?” Tanya Om Obi sambil masak sopi.
Veronika, tokoh dalam lagu balada “Lu Kenal Veronika Ko? Lagu yang lagi viral atau sedang mendunia. Konon, digarap alakadarnya atau isengan oleh Verry Klau.
Ia mungkin menulis lagu itu ditemani kopi hangat kurang gula sambil duduk dekat kios Bugis. Struktur syairnya mirip algoritma percakapan di lorong menuju lapak Pasar Betun Malaka, Nusa Tenggara Timur.
Nada-nadanya mengesankan cinta salah parkir. Dinyanyikan oleh siapa saja dengan gaya parlente. Tetapi, elekrika viralitas menghipnotis dunia.
Baca juga: Opini: Membaca Pesta Babi dari Pesan Paus Leo XIV
Tak kalah viral adalah film Pesta Babi, garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale. Cuma proses viralitasnya sangat berbeda.
Kalau Veronika viral karena orang berjoget, mudah diakses, mudah dinyanyikan. Sedangkan, film Pesta Babi viral karena dilarang menonton.
Film ini viral karena dilarang viral. Justeru pelarangan itulah yang memproduksi viralitas film itu.
Aparat (tentara) mendadak menjadi Lembaga Sensor Film ( LSF). Kalau LSF biasanya sibuk suntuk menghitung durasi berapa detik adegan seronok, sedangkan aparat menyesor tingkat ancaman terhadap perasaan pejabat.
Seolah-olah kamera dokumenter lebih berbahaya daripada kebocoran anggaran anggaran MBG. Rupanya, negara masih memakai logika analog, jika layar ditutup maka ceritera selesai.
Padahal, jika layar ditutup paksa, maka ceritera tak akan selesai dan malahan ceritera beranak-pinak.
Dari segi garapan sinematik, Film Pesta Babi sebenarnya tidak terlalu istimewa. Unsur dramatiknya pun tergolong biasa.
Mungkin, karena latarnya Papua, tanah yang selalu sensitif secara politik, tempat bendera Bintang Kejora berkibar. Atau temanya agak ekstrem melebihi Poco Leok di Manggarai, sehingga ngara tersinggung dan mendadak diperlakukan seperti korek api di pompa bensin.
Padahal, andaikan diputar biasa dan dibuka ruang diskusi publik, mungkin tidak seheboh sekarang. Larangan aparat malah memviralkan film ini. Dengan kata lain, kekuatan film ini justru terletak pada “larangan menonton.”
Baca juga: Opini: Bahasa Simbol Perlawanan
Awalnya hanya segelintir orang yang tahu film itu. Mahasiswa, aktivis menonton dan berdiskusi, komunitas film melakukan bedah karya sambil minum kopi. Lalu, aparat datang dengan wajah serius membubarkan nonton bareng (nobar).
film Pesta Babi
Pesta Babi
Lu kenal Veronika ko
Verry Klau
Marsel Robot
Opini Pos Kupang
Papua Selatan
Organisasi Papua Merdeka
Bendera Bintang Kejora
Meaningful
| Opini: Memandang Penderitaan sebagai Doa dalam Terang Teologi Salib Edith Stein |
|
|---|
| Opini: Menakar Krisis Iklim Kemarau Ekstrem dan Gejolak Vulkanik Lewotobi Laki-laki |
|
|---|
| Opini: Amfoang yang Terlupakan- Saat BBM Langka, Jalan Rusak dan Faskes Menjadi Pajangan |
|
|---|
| Opini: Absurdistas Hukum di Negeri Konoha |
|
|---|
| Opini: Bahasa Simbol Perlawanan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Marsel-Robot3.jpg)