Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini: May Day di Tanah Tanpa Pabrik Besar

NTT tidak boleh menjadi tanah yang kaya bahan, tetapi miskin pengolahan. Pekerja NTT tidak boleh terus menjadi tenaga murah

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Orang bekerja, tetapi rantai nilainya pendek. Komoditas keluar, nilai tambah pergi, upah tertahan.

Tanpa Industri, Buruh Sulit Naik Kelas

World Economic Forum memperkirakan 22 persen pekerjaan global akan terdampak disrupsi pada 2030, dengan 170 juta pekerjaan baru tercipta dan 92 juta tergeser. 

ILO juga mengingatkan bahwa digitalisasi dan otomatisasi sedang membentuk ulang dunia kerja. Namun untuk NTT, ancaman terbesar bukan robot yang menggantikan buruh pabrik. 

Ancaman terbesarnya justru ketiadaan basis industri yang cukup kuat untuk menyerap, melatih, dan menaikkan kompetensi buruh lokal.

Karena itu, pembicaraan tentang buruh NTT harus berani masuk ke isu investasi pabrik besar. 

Daerah ini tidak bisa selamanya hanya mengandalkan sektor jasa kecil, proyek pemerintah, dan kerja informal. 

NTT membutuhkan industri pengolahan berbasis potensi lokal: pabrik pengolahan hasil perikanan, industri pakan ternak, rumah potong modern dan pengolahan daging, pengolahan garam, pangan lokal, minyak atsiri, rumput laut, mete, kelor, kopi, serta industri pendukung pariwisata.

Investasi pabrik besar bukan berarti mengorbankan masyarakat kecil. Justru tanpa industri, masyarakat kecil akan terus menjual bahan mentah dengan harga lemah. 

Yang harus ditolak bukan pabriknya, melainkan model investasi yang mengambil bahan, membawa laba keluar, dan meninggalkan pekerja lokal sebagai buruh murah.

Di sinilah pendekatan Michael Porter tentang competitive advantage relevan. Daya saing daerah tidak lahir hanya dari kekayaan alam, tetapi dari kemampuan membangun klaster industri, tenaga kerja terampil, pemasok lokal, infrastruktur, inovasi, dan pasar. 

NTT tidak cukup bangga punya laut, ternak, lahan, budaya, dan pariwisata. Semua itu harus diubah menjadi klaster nilai.

Pakta Rantai Nilai Buruh NTT

Solusinya harus lebih operasional. Pertama, pemerintah daerah perlu membuat Pakta Rantai Nilai Buruh NTT

Setiap investasi besar harus memuat kewajiban serapan tenaga kerja lokal, pelatihan teknis, penggunaan pemasok lokal, kemitraan dengan koperasi dan UMKM, serta target peningkatan nilai tambah daerah.

Kedua, investasi pabrik besar harus diarahkan ke sektor yang memang punya bahan baku lokal. 

Jangan hanya mengejar pabrik yang berdiri, tetapi pabrik yang mengikat petani, nelayan, peternak, UMKM, koperasi, dan pekerja lokal ke dalam rantai pasok. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved