Opini
Opini: Dimensi Spiritual Ekowisata
Usaha mencari makna terdalam berupa nilai transeden itu dapat ditempuh juga melalui wisata spiritual agama, wisata spiritual budaya.
Oleh: Albert Novena
Tinggal di Seminari Tinggi St Paulus Ledalero – Maumere, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Viktor E. Frankl, seorang ahli psikologi post-freudian, dalam bukunya Man’s Search for Meaning (1959), mengatakan manusia dari kodratnya memiliki kecenderungan akan hal-hal spiritual atau religius.
Manusia dalam dirinya selalu mencari makna terdalam dari hidupnya dan bila tidak tersalurkan dengan baik bisa menimbulkan gejala neurosis.
Karena itu manusia dinamakan homo spiritualis yang mencari makna spiritual dalam alam (naturalistic spirituality), dalam budaya (monistic spirituality) dan dalam agama (theisitc spirituality).
Makna terdalam dari hidup itu berupa suatu nilai transenden yang tidak dapat kelihatan dengan mata kepala namun diyakini terkandung dalam alam, budaya dan agama (Collins Keneth, 2001, p.9-14).
Baca juga: Opini: Moke - Antara Warisan Budaya, Ekonomi Rakyat dan Negara yang Gamang
Usaha mencari makna terdalam berupa nilai transeden itu dapat ditempuh juga melalui wisata spiritual agama, wisata spiritual budaya dan wisata spiritual alam.
Dalam wisata spiritual agama atau biasanya dinamakan juga wisata ziarah ialah wisata ke obyek dan daya tarik wisata (ODTW) yang berhubungan dengan keyakinan keagamaan tertentu.
Misalnya makam orang kudus atau pemimpin agama, pusat pelatihan dan pendidikan rohani seperti biara, vihara, pesantren, perayaan hari raya dan ritual keagamaan, tempat penyimpanan relikwi orang kudus, bangunan yang berhubungan dengan sejarah keagamaan tertentu.
Dalam agama Islam ada wisata syariah, di mana setiap pelayanan kepariwisataan berlabel halal dan bernilai syariah.
Wisata syariah ialah perjalanan wisata yang semua prosesnya sejalan dengan nilai-nilai syariah Islam, dengan niat semata-mata untuk ibadah dan mengagumi ciptaan Allah.
Selama dalam perjalanannya dapat melakukan ibadah dengan lancar dan setelah sampai tujuan wisata, tidak mengarah ke hal-hal yang bertentangan dengan syariah, makan dan minum yang halalan thayyibah, hingga kepulangannya pun dapat menambah rasa syukur kepada Allah ( Bawazir Tohir, 2013, p.22).
Wisata spiritual budaya ialah wisata ke ODTW budaya, misalnya even yang berhubungan dengan siklus kehidupan manusia seperti upacara kelahiran, sunatan dan potong gigi, perkawinan serta kematian.
Bisa juga perkampungan dan perumahan adat, pesta-pesta adat syukuran tahunan seperti reba di Ngada, gren mahe di Tana Ai Sikka, kesenian tradisional (seperti tarian, peralatan ritual) atau juga sentra produk kerajinan tangan penduduk setempat.
Seperti berbagai motif kain tenunan dan busana adat atau ritus pertanian tradisional termasuk simbol-simbol sajian makanan dan usaha kenelayanan seperti ritual penangkapan ikan paus di Lamalera dan teknik pertukangan bangunan rumah adat seperti di Bena, Ngada.
Wisata spiritual alam, misalnya mengunjungi ODTW alam yang dipandang keramat seperti gua-gua alam, sungai dan sumber mata air (panas), danau dan hutan-hutan dengan pepohonan besar, satwa hutan (termasuk varanus komodoensis) dan panorama alam lainnya yang menakjubkan seperti gunung dan pantai atau peristiwa alam seperti saat terbit dan terbenamnya matahari.
| Opini: Digitalisasi Pendidikan, Artificial Intelligence dan Cognitive Debt |
|
|---|
| Opini: Paradigma Baru Hukum Pidana untuk Lindungi Insinyur dan Marwah APH dari Rekayasa Kasus |
|
|---|
| Opini: Moke - Antara Warisan Budaya, Ekonomi Rakyat dan Negara yang Gamang |
|
|---|
| Opini: Kebebasan Pers dan Siapa yang Berhak Menamai Kebenaran? |
|
|---|
| Opini: Ilusi PAD dan Distorsi Akuntabilitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Albert-Novena.jpg)