Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Memandang Penderitaan sebagai Doa dalam Terang Teologi Salib Edith Stein

Kebahagiaan selalu menjadi preferensial primer karena berbasis pada kenikmatan. Apa yang nikmat itu bahagia. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Oswaldus Abur 

Oleh: Oswaldus Abur 
Mahasiswa Fakusltas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pada hakitatnya penderitaan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia bahkan penderitaan selalu membingkai perjalanan hidup manusia. 

Dalam dunia yang berpola instan, enak  dan mudah manusia memiliki tendensi untuk menghindari penderitaan yang dilihat sebagai kenyataan yang mengganggu keharmonisan hidup manusia. 

Kebahagiaan selalu menjadi preferensial primer karena berbasis pada kenikmatan. Apa yang nikmat itu bahagia. 

Pemikiran atau gagasan ini sejalan yang  apa yang dikatakan Epicurus bahwa tujuan hidup manusia sejatinya bermuara pada kenikmatan dan menghindari penderitaan. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 24 Mei 2026: Dari Ruang Tertutup Menuju Perutusan

Selama berada di dunia manusia dituntut untuk mengejar apa yang memberikan kenikmatan pada tubuhnya. Pandangan ini tanpa disadari mempengaruhi kesadaran manusia dalam memandang penderitaan

Penderitaan dilihat sebagai patologi yang menakutkan karena sifatnya meruntuhkan keadaan manusia yang secara eksistensial berkeinginan untuk hidup dalam kenikmatan.

Teologi salib yang digagas oleh Edith Stein semacam membawa angin segar. Teologi ini  memberi  makna dan spiritualitas baru dalam memandang penderitaan

Dia mengatakan bahwa penderitaan memang inheren dan riil dalam hidup  manusia tetapi justru itulah yang mengantarnya pada kemuliaan surgawi. 

Penderitaaan yang dimaksudkan di sini adalah salib di mana melalui salib peristiwa kebangkitan dan penebusan menjadi sempurna. Tanpa salib penebusan dan peristiwa kebagkitan tidak ada.

Dalam konteks kehidupan umat beriman yang sudah terjerumus dalam pola pemikiran hedonisme seringkali merasa takut menghadapi penderitaan

Bahkan dalam formulasi doa-doa yang dilantunkan menggambarkan kelemahan iman di hadapan penderitaan

Berangkat dari realitas ketakutan  akan ini ada sebuah pertanyaan yang muncul “apakah penderitaan itu bisa dimaknai sebagai doa sehingga tidak menjadi hal yang perlu ditakuti?”  jawaban atas pertanyaan  ini akan dikaji oleh penulis dengan menggunakan perspektif teologi Salib Edith Stein.

Penderitaan dalam Bingkai Pengalaman Manusia

Definisi penderitaan menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan. Defenisi lain dari penderitaan adalah keadaan tertekan yang parah berkenaan dengan peristiwa yang mengancam keutuhan seseorang. 

Kondisi penderitaan tersebut tentu sangat berdampak pada hubungan sosial seseorang. Hal ini membuat penederitanya mengalami keterasingan sosial  serta hambatan dalam melakukan aktivitas jasmani yang utuh sebagaimana manusia pada umumnya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved