Opini
Opini: Moke - Antara Warisan Budaya, Ekonomi Rakyat dan Negara yang Gamang
Moke memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan pariwisata.
Oleh: Allexandro B. K. Rato
Mahasiswa FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Moke bukan sekadar cairan hasil destilasi nira lontar atau enau. Moke adalah narasi panjang tentang sejarah, identitas, dan perjuangan hidup masyarakat Flores, khususnya di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Dalam setiap tetes moke tersimpan pengetahuan lokal, ritus adat, solidaritas komunal, dan realitas ekonomi rakyat kecil yang bertahan di tengah keterbatasan.
Hari ini, moke berada di persimpangan. Di satu sisi dipandang sebagai warisan budaya, di sisi lain diperlakukan sebagai objek pelanggaran hukum.
Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: apakah negara memahami moke dalam seluruh kompleksitasnya, atau justru menyederhanakannya dalam kerangka legalitas semata?
Baca juga: Polres Kupang Amankan 1.825 Liter Moke di Pelabuhan Bolok
Dalam kehidupan masyarakat Flores, moke memiliki makna yang jauh melampaui fungsi konsumsi. Ia hadir dalam berbagai ritus adat seperti pernikahan, syukuran, hingga upacara kematian.
Moke menjadi simbol relasi sosial, alat pemersatu, sekaligus media komunikasi kultural.
Pengetahuan tentang penyadapan nira, proses fermentasi, hingga teknik destilasi diwariskan secara turun-temurun, menjadikannya bagian dari warisan budaya tak benda yang hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, melihat moke hanya sebagai minuman beralkohol adalah reduksi yang mengabaikan dimensi historis dan antropologisnya.
Pendekatan semacam ini berisiko menghapus praktik budaya yang telah eksis jauh sebelum negara modern membentuk regulasi.
Di sisi lain, moke juga merupakan realitas ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Di banyak desa di Sikka, produksi moke bukanlah pilihan bebas, melainkan strategi bertahan hidup.
Keterbatasan lapangan kerja formal, rendahnya akses ekonomi, dan ketergantungan pada sektor pertanian tradisional mendorong masyarakat mencari alternatif yang paling mungkin dijalankan.
Moke memenuhi kriteria itu: bahan bakunya tersedia, prosesnya sederhana, dan pasarnya nyata.
Pendapatan dari moke digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari biaya pendidikan anak hingga kebutuhan kesehatan dan konsumsi sehari-hari.
Dalam konteks ini, moke bukan sekadar komoditas, melainkan jaring pengaman sosial bagi masyarakat desa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Allexandro-B-K-Rato.jpg)