Selasa, 26 Mei 2026

Opini

Opini: NTT Kehilangan Ruang Mendengar

Kesaksian terbesar justru terletak pada siapa yang masih mampu mendengar ratapan manusia tanpa kehilangan kelembutan hati.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT di Klasis Sabu Timur
e-Mail: johnmhwaduneru@gmail.com

POS-KUPANG.COM - Malam malam di Nusa Tenggara Timur hari ini dipenuhi suara. 

Televisi berbicara tanpa jeda. Media sosial bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia mencerna kenyataan. 

Grup WhatsApp tidak pernah benar benar tidur. Elite politik saling memberi pernyataan. 

Pemerintah sibuk memberi klarifikasi. Gereja terus berkhotbah. Semua orang tampak sedang berbicara.

Namun dari seluruh kebisingan itu, percakapan yang sungguh manusiawi justru terasa makin langka.

Wajah sosial NTT perlahan berubah menjadi ruang yang penuh suara tetapi miskin pendengaran. 

Baca juga: Opini: Ensiklik Magnifica Humanitas- Cara Paus Leo Melawan Kebangkitan Menara Babel

Di ruang tunggu rumah sakit, seorang mama duduk memegang map rujukan yang mulai kusut. 

Ia tidak sedang meminta pidato besar tentang pelayanan publik. Ia hanya ingin seseorang menjelaskan dengan sabar, mendengar takutnya dan tidak memperlakukannya seperti nomor antrean yang merepotkan. 

Di kantor desa, warga menunggu berjam jam sambil memegang berkas yang belum tentu selesai hari itu. 

Di banyak kampung NTT, orang masih duduk bersama di bawah pohon, di beranda rumah, di balai desa, atau di halaman gereja. Namun duduk berdekatan tidak selalu berarti saling mendengar.

Fenomena itu tampak jelas dalam berbagai situasi beberapa bulan terakhir. Polemik Bank NTT memperlihatkan bagaimana energi publik lebih banyak habis pada saling menjaga posisi dan saling menyerang citra dibanding membangun keterbukaan yang menenangkan masyarakat. 

Persoalan dana desa memperlihatkan retaknya hubungan antara warga dan birokrasi lokal. Kritik pelayanan publik sering dibalas dengan bahasa administratif yang dingin. 

Proyek pembangunan tidak jarang datang dengan presentasi yang rapi tetapi percakapan yang minim. 

Masyarakat akhirnya merasa pembangunan lebih sering dibicarakan daripada didengarkan bersama.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved