Breaking News
Selasa, 26 Mei 2026

Opini

Opini: Menulis

Dua buku tersebut diganjal sejumlah nominasi dan penghargaan. Memoria jadi salah satu Buku Puisi Rekomendasi Majalah Temp

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIO F. LAWI
Mario F. Lawi 

Oleh: Mario F. Lawi
Komunitas Sastra Dusun Flobamora Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Sebagian puisi dalam dua buku puisi pertama saya, Memoria dan Ekaristi lahir dari buku-buku catatan dan latihan di SMP dan SMA. 

Puisi-puisi tersebut pun kemudian saya pindahkan ke dalam ketikan komputer, sebelum disalin beberapa kali dengan flashdisk sebelum akhirnya terbit menjadi buku. 

Dua buku tersebut diganjal sejumlah nominasi dan penghargaan. Memoria jadi salah satu Buku Puisi Rekomendasi Majalah Tempo 2013. 

Ekaristi jadi Buku Puisi Pilihan Majalah Tempo 2014, serta masuk daftar panjang Khatulistiwa Literary Award 2014. 

Baca juga: Cerpen: El Samoa

Puisi-puisi yang terbit di buku-buku selanjutnya seperti Lelaki Bukan Malaikat, Mendengarkan Coldplay dan Homo Narrans justru lebih dahulu disimpan dalam ketikan-ketikan laptop, yang saya salin beberapa kali setiap laptop berganti. 

Proses produksi semacam itu mengikuti kebiasaan saya dalam mencatat: di bangku sekolah, sejak SD sampai SMA, saya hanya bisa mencatat dengan pena dan pensil, karena cara lain tidak mungkin dipakai. 

Saat kuliah, baik sarjana maupun magister, saya lebih sering mencatat dengan langsung mengetik di laptop. 

Alasannya praktis: kemampuan mengetik sepuluh jari yang saya miliki, yang diajarkan secara formal kepada kami ketika masih belajar di SMP Katolik St. Theresia, lebih cepat dari kemampuan mencatat manual, dan dokumen catatannya bisa saya simpan secara digital untuk saya baca di mana saja bermodalkan gawai. 

Perkembangan teknologi memberikan dimensi baru bagi proses kepenulisan saya: saya tidak lagi terlalu takut pada ancaman kerusakan fisik kertas, dan ruang revisi menjadi lebih luas karena prosesnya bisa dikerjakan di mana saja dan kapan saja. 

Tipografi puisi-puisi saya, yang sering dimulai dengan huruf kapital di setiap awal larik, juga dipengaruhi oleh pemanfaatan teknologi ini. 

Di luar urusan penulisan kreatif tersebut, saya masih mencatat dengan kedua jenis benda tersebut tergantung konteks: dalam liputan yang mengutamakan kecepatan dan akurasi, dengan mobilitas yang tinggi, mengetik dengan gawai akan jauh lebih memudahkan segala prosesnya, dari drafting, editing sampai finishing. 

Dalam pertemuan-pertemuan yang spontan dan tidak memungkinkan penggunaan gawai, saya tetap mengandalkan pena dan kertas. 

Pensil, pena, kertas, laptop maupun telepon pintar sama-sama merupakan teknologi yang memang bertujuan memudahkan kita melakukan pekerjaan-pekerjaan kita. 

Marshall McLuhan mengingatkan kita dalam Understanding Media: the Extensions of Man bahwa teknologi memang merupakan perpanjangan fungsi-fungsi tubuh manusia. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved