Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Ensiklik Magnifica Humanitas- Cara Paus Leo Melawan Kebangkitan Menara Babel

Magnifica Humanitas  adalah judul ensiklik pertama Paus Leo dan membahas pelestarian kemanusiaan di era kecerdasan buatan.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
TANGKAPAN LAYAR YT/KOMSOS KEUSKUPAN ATAMBUA
Pater Markus Solo Kwuta, SVD. 

Oleh: Pastor Markus Solo Kewuta, SVD *
Misionaris SVD asal Nusa Tenggara Timur. Kini tinggal dan berkarya di Vatikan sebagai Staf Dikasteri Dialog Antaragama.

POS-KUPANG.COM - Dalam ensiklik pertamanya, Paus Leo XIV membahas dua isu utama zaman kita: peluang dan risiko kecerdasan buatan serta perdamaian bagi semua orang. Ia memperingatkan terhadap matinya kepekaan yang fatal terhadap perang.

Magnifica Humanitas  adalah judul ensiklik pertama Paus Leo dan membahas pelestarian kemanusiaan di era kecerdasan buatan.

Ensiklik ini bertanggal 15 Mei 2026, yang juga menandai peringatan 135 tahun penerbitan ensiklik sosial penting Leo XIII, Rerum Novarum pada tahun 1891.

Dalam ensiklik pertamanya, yang disampaikan pada Senin Pentakosta ini, Paus Leo XIV melihat umat manusia dihadapkan pada sebuah pilihan: mereka dapat membangun " Menara Babel" baru, sebuah proyek kekuatan teknologi tanpa Tuhan, yang mereduksi manusia menjadi data dan efisiensi. 

Baca juga: Opini - Keadilan Bagi Kaum Buruh Perspektif Ensiklik Rerum Novarum

Atau mereka dapat, seperti Nehemia dalam Perjanjian Lama, membangun kembali kota Yerusalem yang hancur bersama-sama, sebagai tempat hidup berdampingan secara persaudaraan dan adil. Kedua gambaran ini terjalin seperti benang merah dalam ensiklik tersebut.

Seperti yang dilakukan Paus Leo XIII dengan ensikliknya "Rerum novarum" 135 tahun yang lalu, Paus Leo XIV berupaya menafsirkan masa kini dalam terang Injil, membahas masalah dan tantangan saat ini. 

Saat ini, tantangan utamanya adalah digitalisasi dengan kecerdasan buatan (KI atau AI) dan pertanyaan tentang perang dan perdamaian. 

Paus Leo mengeksplorasi aspek-aspek ini dalam lima bab, sambil mengangkat kembali dasar dan prinsip ajaran sosial Gereja Katolik. Bab 3 dan 5 sangat menarik dan relevan.

Kecerdasan Buatan sebagai Tantangan Utama

Dalam bab ketiga, Paus Leo mengkaji kecerdasan buatan secara detail, menggambarkannya sebagai salah satu tantangan penting di zaman kita. 

Prinsip-prinsip panduan bagian ini adalah dua gambaran alkitabiah yang telah dijelaskan: Menara Babel dan pembangunan kembali Yerusalem. Oleh karena itu, pertanyaan penting di zaman kita adalah: "Apa yang sedang kita bangun?"

Paus menggemakan kritik terhadap "paradigma teknokratis" yang telah dirumuskan oleh Paus Fransiskus dalam ensikliknya Laudato si'. Teknologi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran tindakan manusia. 

Jika efisiensi, kontrol, dan keuntungan diangkat menjadi prinsip tertinggi, umat manusia sendiri berisiko menjadi objek optimasi teknologi. 

Paus Leo XIV memperingatkan bahwa revolusi digital, dan kecerdasan buatan khususnya, dapat semakin memperkuat struktur kekuasaan yang ada. 

Kontrol atas data, platform, dan daya komputasi semakin terkonsentrasi di tangan beberapa perusahaan global. Ini menciptakan bentuk-bentuk baru ketergantungan, manipulasi, dan ketidaksetaraan sosial.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved