Opini
Opini: Minus Malum dalam Pendidikan di NTT
Anak-anak di daerah pedalaman dipaksa mempelajari konsep-konsep abstrak yang tidak pernah menyentuh pengalaman konkret mereka sehari-hari.
Oleh : Didimus Wungo
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Filsuf Yahudi-Portugis, Baruch Spinoza pernah melihat manusia sebagai makhluk rasional yang hanya dapat mencapai kebebasannya ketika ia mampu mengetahui sebab-sebab yang membentuk hidupnya.
Bagi Spinoza, manusia yang tidak menggunakan nalarnya akan sangat mudah dikuasai oleh ketakutan, keadaan, bahkan sistem yang menindas dirinya sendiri.
Pemikiran ini terasa sangat dekat ketika melihat wajah pendidikan yang terjadi di Nusa Tenggara Timur ( NTT) saat ini.
Pembangunan gedung sekolah terus dilakukan, program pendidikan terus diluncurkan, angka partisipasi sekolah terus-menerus diumumkan, tapi kemampuan berpikir kritis masyarakat justru masih tertatih.
Pendidikan hadir secara administratif, namun cenderung gagal melahirkan kesadaran rasional yang mampu membebaskan manusia dari lingkaran kemiskinan dan ketidakberdayaan.
Baca juga: Opini - Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Stoisisme
Namun di tengah keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib, sistem pendidikan di NTT justru sedang menghadapi krisis yang lebih serius dari sekadar persoalan fasilitas yang ada.
Setiap kali mutu pendidikan berada di titik yang paling rendah, jawaban yang selalu muncul dari birokrasi hampir selalu sama; meningkatkan pembangunan ruang kelas baru, pembagian gawai, digitalisasi sekolah, atau bahkan pergantian kurikulum sekolah yang terus dibongkar pasang.
Semua ini memang merupakan respons yang penting, akan tetapi persoalannya tidak pernah benar-benar menyentuh akar masalah.
Pendidikan kita sedang kehilangan fondasi etis dan arah rasionalnya. Sekolah sudah hadir secara fisik, tetapi masih gagal membangun daya pikir yang membebaskan manusia.
Di tengah situasi inilah gagasan Minus Malum memperoleh relevansinya. Secara sederhana Minus Malum dapat dipahami sebagai ikhtiar untuk meminimalkan kerusakan sosial melalui kebangkitan kesadaran rasional bersama.
Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan angka kelulusan atau stratifikasi administratif, tetapi harus mampu melahirkan manusia-manusia yang mampu memahami realitas hidupnya secara kritis.
Tanpa adanya kemampuan berpikir seperti itu, sekolah hanya akan terus bergerak di tempat dan menjadi ruang reproduksi ketidakberdayaan.
Pemikiran ini memiliki benang merah yang kuat dengan filsafat Baruch Spinoza dalam karya monumentalnya, Ethics.
Spinoza melihat kehidupan sebagai jaringan sebab-akibat yang selalu terhubung antara satu sama lain.
| Opini - Membangun Kesadaran Ekologis Kota Kupang: Sebuah Refleksi Kosmologis |
|
|---|
| Opini - Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Stoisisme |
|
|---|
| Opini: Menalar Konflik Film Pesta Babi dalam Perspektif Politik Pengakuan |
|
|---|
| Opini: Apakah Beribadah dapat Mencegah Terjadinya Bunuh Diri? |
|
|---|
| Opini: Satu Momen, Banyak Tafsir- Polemik Gawai Pejabat di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Didimus-Wungo.jpg)