Jumat, 29 Mei 2026

Opini

Opini: Minus Malum dalam Pendidikan di NTT 

Anak-anak di daerah pedalaman dipaksa mempelajari konsep-konsep abstrak yang tidak pernah menyentuh pengalaman konkret mereka sehari-hari. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DIDIMUS WUNGO
Didimus Wungo 

Oleh : Didimus Wungo
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Filsuf Yahudi-Portugis, Baruch Spinoza  pernah melihat manusia sebagai makhluk rasional yang hanya dapat mencapai kebebasannya ketika ia mampu mengetahui sebab-sebab yang membentuk hidupnya. 

Bagi Spinoza, manusia yang tidak menggunakan nalarnya akan sangat mudah dikuasai oleh ketakutan, keadaan, bahkan sistem yang menindas dirinya sendiri. 

Pemikiran ini terasa sangat dekat ketika melihat wajah pendidikan yang terjadi di Nusa Tenggara Timur ( NTT) saat ini. 

Pembangunan gedung sekolah terus dilakukan, program pendidikan terus diluncurkan, angka partisipasi sekolah terus-menerus diumumkan, tapi kemampuan berpikir kritis masyarakat justru masih tertatih. 

Pendidikan hadir secara administratif, namun cenderung gagal melahirkan kesadaran rasional yang mampu membebaskan manusia dari lingkaran kemiskinan dan ketidakberdayaan. 

Baca juga: Opini - Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Stoisisme

Namun di tengah keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib, sistem pendidikan di NTT justru sedang menghadapi krisis yang lebih serius dari sekadar persoalan fasilitas yang ada. 

Setiap kali mutu pendidikan berada di titik yang paling rendah, jawaban yang selalu muncul dari birokrasi hampir selalu sama; meningkatkan pembangunan ruang kelas baru, pembagian gawai, digitalisasi sekolah, atau bahkan pergantian kurikulum sekolah yang terus dibongkar pasang. 

Semua ini memang merupakan respons yang penting, akan tetapi  persoalannya tidak pernah benar-benar menyentuh akar masalah. 

Pendidikan kita sedang kehilangan fondasi etis dan arah rasionalnya. Sekolah sudah hadir secara fisik, tetapi masih gagal membangun daya pikir yang membebaskan manusia. 

Di tengah situasi inilah gagasan Minus Malum  memperoleh relevansinya. Secara sederhana Minus Malum dapat dipahami sebagai ikhtiar untuk meminimalkan kerusakan sosial melalui kebangkitan kesadaran rasional bersama. 

Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan angka kelulusan atau stratifikasi administratif, tetapi harus mampu melahirkan manusia-manusia yang mampu memahami realitas hidupnya secara kritis. 

Tanpa adanya kemampuan berpikir seperti itu, sekolah hanya akan terus bergerak di tempat dan menjadi ruang reproduksi ketidakberdayaan. 

Pemikiran ini memiliki benang merah yang kuat dengan filsafat Baruch Spinoza dalam karya monumentalnya, Ethics. 

Spinoza melihat kehidupan sebagai jaringan sebab-akibat yang selalu terhubung antara satu sama lain. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved