Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini: Manfaat Filsafat untuk Optimalisasi Pembangunan NTT

Biasakan para pemimpin pemerintahan akrab dengan ilmu filsafat. Tentu saja tidak bermaksud agar semua bupati di NTT belajar filsafat.. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI AGUSTINUS TETIRO
Agustinus Tetiro. 

Oleh: Agustinus Tetiro
Alumnus IFTK Ledalero Maumere, Flores - Nusa Tenggara Timur. 

POS-KUPANG.COM - Pengukuhan guru besar bidang filsafat politik untuk Profesor Pater Doktor Otto Gusti Ndegong Madung SVD yang bertepatan dengan ulang tahun ke-94 Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Sikka, NTT pada Sabtu (18/4/2026) telah mengundang perhatian luas. 

Pertama, orasi ilmiah sang yubilaris berjudul “Legitimasi Kekuasaan, Epistemologi Demokrasi, dan Daya Pertimbangan Politik: Refleksi Filsafat Politik bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia” memakau banyak pendengar. 

Ini orasi filsafat, bukan kampanye pemilu. Profesor Otto tahu betul itu. Maka, dia meminta agar orasinya ditanggapi secara kritis dan luas. 

Sang guru besar memprovokasi bahwa orasinya adalah pancingan untuk suatu diskusi lebih lanjut. 

Baca juga: Guru Besar IFTK Ledalero Pater Otto Gusti Soroti Masa Depan Demokrasi Indonesia

Pancingan dari guru besar baru kita ini cukup tebal, yakni 20 halaman. Maka, tentu saja tidak adil kalau tanggapannya dibuat dalam sebuah catatan sangat ringkas seperti ini. Kita tunda hingga ada momentum yang lebih tampan.

Tulisan sederhana ini hanya ingin memperhatikan hal kedua, yakni banyaknya orang penting di level NTT yang hadir pada acara pengukuhan tersebut. Untuk menyebutkan beberapa. 

Ada dua uskup: Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden SVD dan uskup Larantuka Mgr Hans Monteiro. Keduanya adalah juga dosen IFTK Ledalero

Hadir juga Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, yang didampingi bupati Sikka, bupati dan wakil bupati Flores Timur, dan bupati Manggarai Barat. 

Penulis berupaya merakit sebuah kontribusi kecil filsafat bagi derap pembangunan dan kinerja pemerintah provinsi (pemprov) NTT. 

Kendati disebut kecil, sumbangan filsafat untuk pembangunan adalah hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Mari kita memulai. 

Fungsi Filsafat bagi Pembangunan

Gubernur Laka Lena belum lama ini menyatakan bahwa tahun kedua dan seterusnya masa pemerintahan Melki-Johni di NTT adalah masa akselerasi pembangunan. 

Aktualisasi seluruh potensi dan optimalisasi segala sumber daya yang dilakukan dengan gaya dan cara yang dipercepat tentu menjadi keharusan. 

Lalu, akselerasi pembangunan ini untuk apa? Ada banyak tujuan, tetapi bagi NTT sini-kini pada zaman Melki-Johni ini jawabannya jelas: mengurangi prevalensi tengkes (stunting) dan meminimalisir angka kemiskinan ekstrem. 

Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, pastilah mempunyai satu tujuan yang amat jelas: untuk kebaikan bersama (bonum commune). 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved