Opini
Opini: Gugatan Etika atas Euforia Siswa-Siswi NTT Saat Kelulusan
Di sudut-sudut lain daerah ini, masih banyak adik kelas atau anak-anak putus sekolah yang bermimpi memiliki seragam layak pakai.
Oleh : Bernabas Haki
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Ada kebanggan tersendiri jika telah menamatkan Pendidikan Sekolah Menegah Atas (SMA).
Dalam peristiwa inilah muncul sebuah tradisi merayakan kelulusan dengan aksi mencoret-coret seragam sekolah seolah telah menjadi "ritual wajib" tahunan yang sulit dikikis.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), fenomena ini sering kali tampil dengan intensitas yang tinggi, menciptakan kontradiksi tajam antara kegembiraan
sesaat dan esensi pendidikan yang selama ini diperjuangkan di ruang kelas.
Baca juga: Cegah Aksi Corat-Coret Pakaian Seragam, Pengumuman Kelulusan SMAN 1 Kupang Timur Pakai Pakaian Adat
Namun peristiwa dan euforia kali ini untuk siswa-siwi NTT, ada sesuatu yang berbeda dan membuat moral serta adab seseorang terpelajar dipertanyakan.
Baju yang menjadi balutan dan simbol perjuangan baik perjuangan dari orang tua serta menjadi lambang marwah institusi pendidkan dinodai dengan gambar-gambar yang tak pantas untuk dilihat.
Ini merupakan sebuah kemerosotan moral serta gagalnya sistem pendidikan dalam membentuk karakter.
Sebuah kelulusan yang seharusnya menjadi simbol pencapaian intelektual dan transisi menuju kedewasaan dinilai hanya sebagai formalitas, tanpa adanya internalisasi nilai kesopanan dan kehormatan.
Seragam sesungguhnya bukan sekadar pakaian. Ia adalah simbol. Namun ketika seorang siswa memilih untuk menyemprotkan pilox atau mencoretkan spidol secara liar, ada pesan simbolis yang terkirim: sebuah "pemberontakan" terhadap disiplin yang dianggap mengekang.
Mungkin bagi mereka bahwa sekolah itu adalah miniatur negara yang mengekang kebebasan mereka sehingga dengan mencoret seragam memberikan sebuah pernyataan bahwa “kendali sekolah telah berakhir dan mereka kini memegang kendali penuh atas diri mereka sendiri”.
Sayangnya, kebebasan yang dirayakan adalah kebebasan yang destruktif.
Menodai seragam secara tidak langsung adalah bentuk pengabaian terhadap nilai ekonomi dan sentimental dari pakaian tersebut terutama di NTT, di mana akses terhadap pendidikan dan atributnya sering kali diraih dengan tetesan keringat yang tidak sedikit.
Dalam data dan laporan yang terbaru hingga tahun 2026 ini bahwa Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menghadapi tantangan serius dan sering dikategorikan tertinggal dalam sektor pendidikan dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia.
Muncul erosi empati di tengah keterbatasan Provinsi NTT yang masih bergulat dengan tantangan literasi dan akses sarana pendidikan.
Di sudut-sudut lain daerah ini, masih banyak adik kelas atau anak-anak putus sekolah yang bermimpi memiliki seragam layak pakai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bernabas-Haki.jpg)