Opini
Opini: Manfaat Filsafat untuk Optimalisasi Pembangunan NTT
Biasakan para pemimpin pemerintahan akrab dengan ilmu filsafat. Tentu saja tidak bermaksud agar semua bupati di NTT belajar filsafat..
Menurut saya, demi maksud mulia itu, filsafat harus bisa menjadi “perkakas untuk menukik lebih dalam” (Bung Hatta).
Agar filsafat bisa bermanfaat untuk roda pemerintahan dan kerja birokrasi di NTT, penulis mengusulkan sejumlah hal.
Pertama, biasakan para pemimpin pemerintahan untuk akrab dengan ilmu filsafat. Tentu saja tidak bermaksud agar semua bupati di NTT belajar filsafat secara sistematis.
Tetapi, memastikan mereka mampu berpikir dalam suatu cara filosofis: logis-radikal, kritis-komprehensif, etis dan konstruktif-produktif,
Untuk maksud ini adalah tidak salah jika setiap tahun pemrov NTT dan pemkab se-NTT mengirimkan satu atau dua ASN untuk studi lanjut di program S2 filsafat di Ledalero.
Mereka diberi tugas untuk menekuni dengan sungguh isu-isu etis pembangunan di daerah masing-masing. Hal ini pasti akan menjadi amat produktif, karena program pascasarjana filsafat di Ledalero memang dirancang untuk suatu cara berfisafat dalam konteks NTT.
Kedua, IFTK Ledalero dan pemprov NTT bisa bekerja sama melakukan sejenis extension course filsafat secara hybrid tentang tema-tema terkait pembangunan. Ini penting untuk memberikan asupan perspektif etis-filosofis pada setiap kebijakan di daerah.
Ketiga, IFTK dan Pemprov perlu juga bekerja sama menggelar Leaders’ Lectures Series yang menghadirkan bupati-bupati, ketua-ketua DPRD dan para kepala dinas di pemprov NTT untuk bisa silang pendapat dan tukar pikiran di depan kelas para mahasiswa pascasarjana di IFTK.
Hal ini penting, agar ada proses saling mendengarkan dan saling belajar dalam suatu konteks.
Ada kesadaran bahwa semangat pembangunan, kebijakan dan pemerintahan tanpa filsafat sebagai ilmu kritis bisa jatuh dalam developmentalisme: pokoknya asal bangun. Begitu juga, filsafat tanpa melihat catatan dari lapangan oleh para pemimpin dan pelaksana pembangunan akan jatuh dalam pemaksaan ide yang nyinyir dan garing.
Keempat, ini semacam suplemen baru: perlu juga dinisiasi pendidikan filsafat bagi para murid SMA di NTT, mengingat mereka sebagai pemilik sah masa depan NTT.
Pemprov NTT dalam hal ini dinas pendidikan bisa merumuskan semacam mata pelajaran khusus tentang dua cabang dasar filsafat logika dan etika.
Logika penting untuk memastikan anak-anak kita berpikir benar dan komprehensif. Sesuatu yang sering disinggung oleh Gubernur Melki terkait kualitas pendidikan menengah kita.
Etika juga penting untuk memastikan bahwa sejak remaja, anak-anak kita telah diperkenalkan pada suatu pemikiran tentang moralitas yang akan menjadi bekal bagi mereka di kemudian hari saat bertemu dengan sejumlah dilema moral.
Pada akhirnya, NTT, Indonesia dan dunia sebenarnya masih membutuhkan banyak orang bijak. Mgr Budi Kleden dalam kotbah misa Dies Natalis ke-94 IFTK Ledalero berbicara tentang orang bijaksana: orang bisa saja pintar karena rajin mengumpulkan pengetahuan, atau menjadi kaya karena menguasai sejumlah sumber daya, dan menjadi berkuasa.
Akan tetapi, kalau dia/mereka tidak bijak, maka wajah dunia tidak akan banyak berubah, justru malah semakin rusak.
Pada titik ini, filsafat yang dalam artinya sebenarnya adalah rasa cinta pada kebijaksanaan (philo-sophia) haruslah masuk dalam darah-daging orang NTT yang memang telah lama familiar dengan istilah filsafat, namun belum menemukan wadah internalisasi yang meyakinkan. Ayo bangun NTT! (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Agustinus-Tetiro.jpg)