Opini
Opini: Menggugat Timor Kouk
Steve Biko pernah mengatakan bahwa “senjata paling ampuh di tangan penindas adalah pikiran dari mereka yang ditindas”.
Kekerasan Simbolik, Luka Psikologis, dan Perlawanan Budaya di Nusa Tenggara Timur
Oleh: Doni Monardo Lopes de Carvalho
Mahasiswa Magister Administrasi Publik di Universitas Gadjah Mada dan pemuda asal Timor yang berdomisili di Kota Kupang.
POS-KUPANG.COM - Dari pergaulan sebaya hingga lingkungan kerja, di kosan Kupang hingga Atambua, bahkan di asrama mahasiswa Nusa Tenggara Timur ( NTT) di Jawa, atau di grup WhatsApp perantau NTT, dua kata itu selalu hadir dengan mudah: Timor Kouk yang berarti “ Timor Bodoh”.
Diucapkan sambil tertawa dan dinormalisasikan atas nama “candaan” sehingga akan dianggap berlebihan jika pihak yang dihina merasa tersinggung atau marah. Frasa ini terdengar seperti bumbu percakapan yang tidak berbahaya.
Namun, di balik dua kata itu tersimpan sebuah mekanisme kekerasan yang bekerja jauh lebih dalam daripada yang kita sadari.
Baca juga: Opini: Gugatan Etika atas Euforia Siswa-Siswi NTT Saat Kelulusan
“Timor Kouk ” bukan sekadar ejekan. Jika kita berefleksi, ini merupakan sebuah upaya pembunuhan karakter lewat bahasa yang bertujuan untuk menempatkan masyarakat Timor dalam posisi kelas dua secara komunal, sosial, dan politis.
Jika terus dinormalisasi, akan ada kaum yang semakin pesimis, merasa rendah diri, merasa tidak pantas, bahkan tidak berani bermimpi karena dua kata yang mengkerdilkan karakter ini.
Warisan Kolonial yang Kita Pelihara Sendiri
Stigma inferioritas etnis bukan fenomena organik melainkan instrumen kolonial.
Penjajah secara sistematis memproduksi narasi “pribumi bodoh dan terbelakang” bukan karena itu fakta, melainkan karena narasi itu berguna untuk menjustifikasi eksploitasi dan menghapus resistensi.
Frantz Fanon dalam The Wretched of the Earth (1961) menganalisis bagaimana kolonialisme bekerja dengan memaksa kaum terjajah menginternalisasi inferioritas mereka sendiri, hingga akhirnya mereka menjadi agen penindasan bagi sesama.
Inilah ironi yang paling menyakitkan dari “Timor Kouk”: narasi yang lahir dari logika kolonial kini diproduksi ulang oleh sesama anak daerah, sesama saudara serumpun di NTT.
Kita sedang mewariskan luka yang tidak kita buat, kepada generasi yang tidak layak menanggungnya.
Kekerasan yang Tidak Berdarah
Pierre Bourdieu menamai praktik semacam ini violence symbolique atau kekerasan simbolik yang merupakan bentuk dominasi yang menggunakan bahasa dan simbol sebagai senjata, bukan kepalan tangan.
Ia bekerja justru karena tidak terasa sebagai kekerasan; ia menyamar sebagai humor, kebiasaan, atau “cara bicara orang sini.”
Tujuannya satu: menciptakan hierarki sosial tak kasat mata, menempatkan yang diejek di posisi subordinat, sementara yang mengejek secara psikologis menempatkan diri di atas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Doni-Monardo-Lopes-de-Carvalho-02.jpg)