Opini
Opini: Tangan yang Menenun, Hidup yang Belum Terjalin
Kartini sejati NTT sudah ada. Ia duduk di depan alat tenun sejak pagi buta, menganyam warisan leluhur dengan tangan yang selalu bergerak.
Menenun adalah pekerjaan kesekian, dikerjakan setelah semua beban domestik terselesaikan.
Kondisi ini bukan kemalasan, bukan ketidakpedulian. Ini adalah cerminan dari sistem yang belum sepenuhnya mengakui nilai kerja perempuan — baik kerja tenunnya maupun kerja domestiknya yang tak pernah berhenti.
"Kartini berjuang agar perempuan diakui kemampuannya. Di NTT, kemampuan itu sudah ada, sudah berkarya, dan sudah digunakan oleh kepala negara. Yang belum hadir adalah pengakuan ekonominya."
Tiga Beban yang Disandang Diam-Diam
Perempuan penenun NTT menanggung tiga lapis beban yang jarang dibicarakan secara bersamaan:
Beban kerja ganda
Mengurus rumah tangga penuh waktu, berkebun atau bekerja di ladang, lalu menenun sebagai pekerjaan ketiga. Jam kerja total bisa melebihi 14 jam sehari — tanpa upah lembur, tanpa jaminan sosial, tanpa pengakuan resmi sebagai pekerja.
Ketergantungan pada tengkulak
Keterbatasan akses pasar membuat banyak penenun menjual kain kepada pengepul dengan harga yang ditentukan oleh pihak lain. Penenun tidak punya kekuatan tawar — ia menerima harga, bukan menentukan harga.
Ancaman kain printing
Kain bermotif NTT yang dicetak dengan mesin (printing) dijual jauh lebih murah dan diproduksi lebih cepat. Jika tidak dilindungi dan dibedakan secara tegas di pasar, kain printing bisa perlahan-lahan mematikan mata pencaharian mama-mama penenun yang mengerjakan tenun asli secara manual.
Kartini Hari Ini Adalah Mama Penenun
Raden Ajeng Kartini berjuang untuk satu hal yang sederhana namun radikal di zamannya: agar perempuan diakui sebagai manusia yang berhak belajar, berpikir, dan berkarya.
Ia tidak punya akses ke ruang publik — dan ia melawan itu melalui tulisan, melalui surat-suratnya yang menembus tembok.
Mama penenun di Sumba Timur, Alor, Sikka, dan Flores Timur tidak kekurangan kemampuan. Mereka tidak kekurangan karya.
Tangan mereka menghasilkan sesuatu yang sudah diakui UNESCO, dipakai oleh kepala negara, dan dijual seharga jutaan rupiah. Yang masih kurang adalah pengakuan atas nilai kerja mereka — dan akses terhadap keadilan ekonomi yang layak untuk karya sebesar itu.
Emansipasi di NTT bukan soal perempuan diizinkan bekerja — mereka sudah bekerja, bahkan lebih keras daripada kebanyakan. Emansipasi di NTT adalah soal apakah kerja itu dihargai secara adil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lanny-Isabela-Dwisyahri-Koroh.jpg)