Senin, 25 Mei 2026

Opini

Opini: Ketika Sebuah Gestur Menjadi Vonis

Kita sedang membangun budaya di mana simbol lebih menentukan daripada substansi. Dan itu berbahaya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI TASOGARE SUUS NENOBAIS
Tasogare Suus Nenobais 

Catatan tentang Kepemimpinan, Persepsi, dan Keadilan dalam Ruang Publik

Oleh: Tasogare Suus Nenobais
Peneliti dan pengamat kebijakan publik.

POS-KUPANG.COM - Politik modern adalah dunia yang kejam terhadap simbol. Kadang bukan keputusan besar yang membentuk persepsi publik, melainkan satu detik gestur yang tertangkap kamera. 

Sebuah tatapan yang dianggap tidak fokus. Sebuah ekspresi yang terbaca dingin. Sebuah tangan yang menggenggam telepon genggam di momen yang oleh publik dianggap formal, penting, bahkan sakral. Lalu pengadilan dimulai. Cepat. Bising. Tanpa jeda.

Di era digital, publik tidak menunggu notulensi. Tidak menunggu klarifikasi protokoler. Tidak pula sabar menanti konteks yang utuh. Yang mereka lihat adalah gambar. Dan gambar, di zaman ini, punya kekuatan brutal untuk membentuk makna, bahkan sebelum fakta selesai menjelaskan dirinya. 

Baca juga: Opini: NTT Menunggu Harapan- Hospital of Hope di Tengah Luka Tata Kelola

Dalam komunikasi politik, persepsi sering bergerak jauh lebih cepat daripada realitas.

Karena itu, ketika muncul kritik terhadap seorang kepala daerah yang tertangkap kamera sedang memegang telepon genggam saat mendampingi pejabat negara dalam agenda resmi, reaksi publik sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan. 

Seorang gubernur adalah pejabat publik.  Ia tidak hanya hadir membawa nama pribadi, tetapi juga mewakili institusi, pemerintahan, dan daerah yang dipimpinnya. Maka ekspektasi publik terhadap etika visual, bahasa tubuh, dan gestur tentu sangat tinggi.

Ekspektasi itu sah. Namun justru karena ekspektasi itu tinggi, publik juga seharusnya menjaga satu hal penting: keadilan dalam menilai. Sebab kita hidup di zaman yang terlalu sering menyederhanakan realitas. 

Satu potongan gambar dianggap cukup untuk menjelaskan keseluruhan karakter
seseorang. Satu momen dijadikan representasi penuh atas integritas seorang pemimpin. 

Satu frame dijadikan dasar untuk menyimpulkan apakah seseorang serius bekerja atau tidak. Padahal realitas pemerintahan tidak sesederhana itu.

Tidak semua orang yang melihat telepon genggam sedang bermain-main. Tidak semua yang terlihat tidak menatap lurus ke depan berarti tidak menghormati forum. 

Dalam dunia pemerintahan, terlebih di level pimpinan daerah, koordinasi tidak mengenal jeda yang sempurna.

Informasi strategis bisa masuk kapan saja. Persoalan lapangan bisa muncul di waktu yang tidak memilih momen. Keputusan kadang harus dibuat paralel dengan agenda resmi yang sedang berlangsung.

Apakah ini berarti sensitivitas visual tidak penting? Sama sekali tidak. Justru di situlah kompleksitas kepemimpinan hari ini. 

Pemimpin modern bukan hanya dituntut bekerja dengan benar. Mereka juga dituntut memahami bagaimana setiap gestur mereka akan diterjemahkan oleh publik.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved