Opini
Opini: Tangan yang Menenun, Hidup yang Belum Terjalin
Kartini sejati NTT sudah ada. Ia duduk di depan alat tenun sejak pagi buta, menganyam warisan leluhur dengan tangan yang selalu bergerak.
Bukan hanya dalam dokumen dan sertifikat, tetapi juga dalam bentuk kebijakan yang benar-benar membedakan dan melindungi tenun asli dari produk printing murah yang mengancam penghidupan ribuan penenun.
Ketiga, akui penenun sebagai pekerja, bukan sekadar ibu rumah tangga berbakat.
Registrasi, perlindungan sosial, dan akses permodalan bagi perempuan penenun harus diperlakukan dengan serius — bukan sebagai program sampingan, melainkan sebagai investasi pada tulang punggung ekonomi kreatif NTT.
Keempat, libatkan penenun dalam pengambilan keputusan. Kebijakan tentang tenun ikat NTT — soal penetapan harga minimum, standar kualitas, promosi, hingga perlindungan motif — seharusnya tidak dirumuskan hanya oleh pejabat dan pengusaha.
Perempuan penenunlah yang paling tahu apa yang dibutuhkan dan apa yang menjadi hambatan.
Hari Kartini bukan hanya tentang mengenakan kebaya dan berfoto. Ia adalah undangan untuk bertanya: di mana perempuan masih tidak dihargai setimpal? Di mana kerja keras mereka masih dirayakan oleh orang lain tanpa mereka ikut menikmati hasilnya?
Di NTT, jawaban itu bisa ditemukan di tangan mama-mama penenun — tangan yang menciptakan kain berkelas dunia, tapi sering kali tidak tahu berapa harga kain itu di kota.
Kartini sejati NTT sudah ada. Ia duduk di depan alat tenun sejak pagi buta, menganyam warisan leluhur dengan tangan yang tidak pernah berhenti bergerak.
Yang masih perlu kita anyam bersama adalah sistem yang adil — agar tangan itu akhirnya juga bisa merajut kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lanny-Isabela-Dwisyahri-Koroh.jpg)